Azhari · 23.04.25 · Berita
Cabai, bawang, dan berbagai dagangan pasar lainnya berganti menjadi kaset, CD, dan vinil. Aneka jajanan berganti menjadi merchandise band. Hiruk-pikuk suara tawar-menawar berganti menjadi iringan musik dari dek DJ dan panggung. Begitulah pergantian suasana di pasar Pujokusuman selama berlangsungnya Record Store Day (RSD) Yogyakarta 2025 yang diadakan pada tanggal 12 & 13 April. Pesona nostalgia di pasar tradisional bersejarah ini sangat beresonansi dengan semangat analog budaya rekaman musik fisik yang dirayakan untuk yang kesepuluh kalinya di Yogyakarta.

Muka bangunan bergaya campuran antara artdeco dan tradisional Jawa menyambut para pengunjung yang tiba di lokasi. Lengkungan-lengkungan yang berjajar memandu pandangan mata menuju meja-meja kayu yang beragam. Alih-alih pedagang tradisional, akhir pekan itu 40 pelapak rilisan fisik dari berbagai wilayah memenuhi area pasar. Mereka merupakan bagian dari jaringan Jogja Record Store Club yang menghubungkan pelapak rekaman fisik dari 7 kota.
Pemilihan pasar Pujokusuman sebagai lokasi RSD Yogyakarta 2025 merupakan sebuah keputusan yang disengaja. Adhi Bayu Perkasa dari Kultura Space, sebagai manajemen Umum acara ini menjelaskan “setiap perayaan Record Store Day tidak bisa hanya mengikuti arus budaya skena utama, tetapi harus memiliki ciri khas kota masing-masing. Kami menemukan kampung Pujokusuman yang memiliki ndalem dan pasar yang masih aktif dengan bangunan yang unik. Dan itu merepresentasikan Jogja dengan ekosistem natural pasar.”



Masih seperti sebelumnya, RSD Yogyakarta menjadi kesempatan yang ditunggu para kolektor untuk berburu rekaman langka, edisi terbatas, atau pun rilisan eksklusif. Rilisan lama maupun baru dari berbagai genre seperti rock klasik, jazz, elektronik, hingga tradisional tertata di berbagai sudut pasar.
Selain ‘harta karun’ skena yang tidak terhitung, acara ini menawarkan berbagai kegiatan yang menghibur. Kali ini RSD Yogyakarta berkolaborasi dengan Simak Siar untuk mengadakan open call. 10 band dan musisi dari berbagai genre terseleksi untuk memeriahkan panggung RSD. Selain kualitas musik, mereka juga terpilih karena mereka meriliskan musiknya dalam format fisik. Pertunjukkan musik langsung juga dilengkapi dengan set-set DJ yang alurnya terus mengalir, memadukan vinil klasik dengan trek digital kontemporer.

Bagi pengunjung yang ingin menikmati musik secara lebih mendalam, sesi dengar menyediakan ruang intim di mana para DJ mengkurasi susunan trek dalam format digital ataupun vinil. Sesi-sesi ini sering memicu diskusi spontan tentang artis, album art, dan sejarah musik yang dimainkan.
Sebagai asupan intelektual dalam acara, diskusi panel dan acara bincang-bincang menampilkan musisi, pemilik toko rekaman, dan komentator budaya. Diskusi ini menggali evolusi vinil, kebangkitannya di era digital, dan peran penting yang dimainkan oleh toko rekaman dalam melestarikan warisan musik.
“Tahun ini kami tidak hanya ingin membicarakan soal emerging music, tapi juga soal kesadaran ekosistem,” ucap Adhi Bayu Perkasa. RSD Yogyakarta 2025 merespon isu ini dengan mengembalikan musik ke ranah awal sejarah rekaman, jauh sebelum era digital. “Ini adalah kali pertama kami menggabungkan elemen budaya tradisional untuk merekayasa keadaan dan memicu nostalgia. Itulah alasan kenapa kami mengembalikan RSD ke pasar basah yang masih aktif ini.”
Info: https://www.instagram.com/jogjarecordstoreclub/

Tim redaksi URAKAN
