• Tentang
  • Editorial
  • Kategori
    • Berita
    • Ulasan

URAKAN

Bagaimana Melampaui Kertas: The Paper Menagerie

ISA Art Gallery menghadirkan kertas tak hanya sebagai medium karya seni, tetapi juga sebagai wadah yang membawa sejarah, narasi, hingga perlawanan.

Aghnia Amalia · 18.06.25 · Ulasan
English · Deutsch

Omah Budoyo Yogyakarta

18 Juni – 18 Agustus 2025

ISA Art Gallery Jakarta

27 Februari – 04 April 2025

The Paper Menagerie, cerita pendek Ken Liu yang terbit pada tahun 2011, menggambarkan pergulatan identitas dan disonansi budaya seorang anak yang lahir dari ayah Amerika dan ibu berdarah Tionghoa-Hong Kong. Dalam keterbatasan bahasa dan jarak budaya, sang ibu menjembatani hubungan mereka dengan melipat kertas menjadi figur-figur origami—kemudian memberi mereka ‘nafas’ kehidupan—sebagai bentuk kasih sayang dan kanal komunikasi yang tak tersampaikan melalui bahasa.

Pameran ini mengambil inspirasi dari kisah tersebut. Melalui dua puluh sembilan seniman, kertas dihadirkan tak hanya sebagai medium karya seni, tetapi juga sebagai wadah yang membawa sejarah, narasi, hingga perlawanan. Setiap karya menawarkan lapisan-lapisan yang berbeda—kerapuhan dan kekuatan, pelestarian dan subversi, ketetapan dan kefanaan—yang disajikan melalui empat subtema dengan kisah The Paper Menagerie sebagai porosnya.

Dalam seri Purnatva dan Sunyata (2025), Sebastianus mengadaptasi teknik wax resist dalam tinta hitam dan mozaik foto di atas kertas bertekstur. Dengan menyusun potongan-potongan foto dalam pola tertentu, ia menciptakan gambaran ingatan yang terfragmentasi—beberapa bagian saling terhubung, sementara lainnya tersekat ruang kosong karena tinta hitam. Foto-foto ini dapat dimaknai sebagai representasi memori dan relasi manusia, mencerminkan keterhubungan dan keterpisahan yang dinamis. Teknik ini memperkuat resonansi karyanya dengan subtema The Cartography of Displacement: Fold, Tears, and The Fragility of Belonging.

Aurora Arrazzi merepresentasikan perekaman memori dalam subtema The Tactile Touch: Paper as An Archive of Memory melalui karyanya, The Sound Under My Shoe (2025). Arrazzi mengeksplorasi kertas sebagai ruang yang aktif merekam jejak perjalanan. Melalui lipatan-lipatan kertas yang disisipkan benda-benda kecil seperti batu dan tisu, ia merefleksikan pengalaman sederhana berjalan, di mana langkah-langkah kita tanpa sadar mengumpulkan fragmen dunia sekitar. Karya ini menghadirkan kertas sebagai arsip sensorik yang menghubungkan tubuh, ruang, dan ingatan.

Kertas, meskipun tipis dan rapuh, juga menjadi medium perlawanan yang subtil namun mendalam. Dalam subtema Layers of Resistance: Paper as A Site of Protest and Subversion, Arahmaiani menghadirkan tiga lukisan akrilik monokromatik dalam seri Suara Alam (2024), masing-masing dengan simbolisme yang khas. Pada Suara Alam 1, tergambar satu pohon beringin yang berdiri kokoh, melambangkan daya tahan yang mengakar. Sementara di Suara Alam 2, satu pohon dengan batang dan ranting bercabang berdiri dengan bulan di latar belakang, menciptakan suasana meditatif dalam siklus alam. Adapun Suara Alam 4 menampilkan tiga pohon cemara yang berdiri terpisah, menekankan isolasi sekaligus ketahanan dalam kesendirian. Dengan menggunakan kertas—bahan yang berasal dari pohon itu sendiri—Arahmaiani menegaskan bahwa alam berbicara, tentang daya tahan dan perlawanan sunyi, dengan caranya sendiri meski sering diabaikan.

Sementara itu, subtema Breath and Dynamism: Paper as A Vessel of Storytelling mengeksplorasi kertas sebagai wadah penceritaan. Iwan Effendi, melalui Papermoon Puppet Theatre, telah lama menggali sifat manusia lewat figur-figur boneka kertasnya. Dalam seri Portrait (2020–2025), ia menggunakan pastel arang untuk melukis figur yang menyerupai boneka kertasnya—diam, namun sarat ekspresi emosional yang terekam dalam sapuan bergradasi. Dengan medium pastel arang yang bisa dihapus dan diubah, Iwan menampilkan sifat dinamis nan sementara dari ingatan serta eksistensi, serta memberikan narasi pada figur yang statis melalui sapuan arang yang ekspresif.

Menariknya, dalam layout ruang pameran, karya-karya ini tidak dikelompokkan berdasarkan subtema. Semua karya melebur dalam satu ruang tanpa batasan eksplisit, sehingga pengalaman menikmati pameran lebih organik—menyoroti eksplorasi medium dan resonansi cerita The Paper Menagerie secara intuitif (subtema baru terungkap saat membaca katalog). Keputusan kuratorial untuk mengikat pameran ini dengan medium kertas tidak menjadi batasan, melainkan membuka ruang eksplorasi luas. Pendekatan beragam para seniman menunjukkan bagaimana kertas dapat bertransformasi, dari papercut Mujahidin dalam Seri Where Does All This Beauty Come From (2025) hingga eksperimen kertas daur ulang oleh Widi Pangestu dalam Raintree, Moss, Contour (2025). Keberagaman ini memperlihatkan bahwa kertas bukan sekedar medium statis, tetapi ruang dinamis yang menampung narasi, identitas, dan ingatan. Alih-alih berdiri sendiri, karya-karya ini saling bersahutan. The Paper Menagerie menunjukkan bahwa ringkihnya kertas mampu bersifat transformatif sebagai metafora maupun eksplorasi visual, sebagai wadah bagi identitas dan ingatan untuk bergerak bebas. Seperti lipatan origami dalam kisah Ken Liu, setiap tekstur, goresan, dan bentuk dalam pameran ini merekonstruksi bentang luas pengalaman alam dan kemanusiaan.

isaartanddesign.com


Aghnia Amalia

Selain menjadi kontributor Urakan Magazine, Aghnia Amalia juga aktif menulis ulasan dan opini pribadi mengenai berbagai karya seperti buku dan film di kanal Substack maupun Twitter/X pribadinya.



URAKAN adalah majalah untuk seluruh pelaku ekosistem seni. Kami menyajikan refleksi, ulasan, dan berita dengan arahan filosofi editorial yang otentik.

Ikuti kami untuk mendapatkan informasi setiap kali kami menerbitkan artikel terbaru. Untuk ikut berkontribusi, klik di sini.

← Back

Thank you for your response. ✨

Warning
Warning
Warning
Warning.

 

Loading Comments...
 

    • Subscribe Subscribed
      • URAKAN
      • Already have a WordPress.com account? Log in now.
      • URAKAN
      • Subscribe Subscribed
      • Sign up
      • Log in
      • Copy shortlink
      • Report this content
      • View post in Reader
      • Manage subscriptions
      • Collapse this bar