Ismail Noer Surendra · 04.08.25 · Berita
English · Deutsch
Yah, malam ini sepi betul
saya tidak bisa tidur
karena saya memikirkan tentang mati
saya berpikir
apakah mati itu ada?
Narasi yang dimunculkan di awal pertunjukan itu seperti sedang akan menghidupkan kembali sosok Harry Roesli. Sosok seniman nyentrik yang dijuluki Si Bengal dari Bandung. Pertunjukan selama 57 menit tersebut seperti ingin memunculkan kembali spirit dari panggung-panggung Harry Roesli yang dikenal ajaib.
Pertunjukan Harry Roesli yang dikenal jenaka, satir, kontemporer, dan nyeleneh kembali dihidupkan oleh pemuda-pemudi Bandung yang bergabung dalam Rumah Musik Harry Roesli (RMHR). Pertunjukan tersebut merupakan bagian dari Konser Maestro di gelaran Yogyakarta Gamelan Festival.
Rabu malam 23 Juli 2025, Rumah Musik Harry Roesli membawakan ulang beberapa repertoar Harry Roesli di Concert Hall, Grha Budaya Embung Giwangan. Konser Maestro yang ditampilkan pada acara tersebut adalah tribute to Sapto Raharjo yang ditampilkan oleh Komunitas Gayam 16, tribute to Djaduk Ferianto yang ditampilkan oleh Kuaetnika, dan tribute to Harry Roesli yang ditampilkan oleh Rumah Musik Harry Roesli.

Concert Hall Embung Giwangan malam itu seperti sedang merayakan Harry Roesli. Sosok yang telah meninggal pada 11 Desember 2004 lalu seperti dipanggil lagi arwahnya untuk tampil malam itu. Berbeda dengan 2 pertunjukan lainnya yang terkesan hanya menampilkan pertunjukan musik, pertunjukan yang ditampilkan oleh RMHR adalah semacam operet. Mereka menghadirkan pertunjukan multimedia dengan menggabungkan dialog, teaterikal, nyanyian, dan juga tarian.
Tengilnya Harry Roesli seperti telah merasuk ke dalam sanubari anak-anak berusia sekolah yang tampil dalam pertunjukan tersebut. Yang didapuk sebagai penampil saat itu adalah anak-anak SMP dan SMA. Mereka adalah murid-murid sekolah musik yang belajar di RMHR. Anak-anak usia sekolah itu memainkan seperangkat gamelan sunda yang bersanding dengan alat musik band modern.
Anak-anak tersebut dibawa untuk menjadi tengil seperti Harry Roesli. Mereka dibuat tampil lepas sebagaimana pertunjukan yang ditampilkan Sang Maestro pada Opera Ken Arok, Teater Koma, Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB), atau Gang of Harry Roesli. Mereka mengaransemen karya-karya Sang Maestro tersebut dengan cara kekinian. Lagu-lagu yang mereka bawakan adalah Kerak Bumi (Epilog dari album Titik Api), Sekar Jepun, Kebo Giro, Bedug Jepang, Orang Basah, dan Jangan Menangis Indonesia. Di antara lagu tersebut, RMHR juga menyisipkan lagu dari Harry Roesli yang kontroversial yaitu Cio Cio Cio Wer Kewer dan Lagu Terpanjang di Dunia.

Layala Krisna Patria, seperti tahu betul cara merebut perhatian penonton sebagaimana yang sering Bapaknya lakukan. Di antara yang lain hanya menampilkan pertunjukan musik, penampilan grupnya ini justru dibawakan dengan cara yang nyerempet-nyerempet teatrikal. Suatu cara yang dilakukan guna menyampaikan gagasan yang ingin mereka sampaikan.
Ditemui di belakang panggung, Yala mengungkapkan bahwa pertunjukan tersebut memang dicoba seperti yang biasa almarhum Bapaknya lakukan. Pertunjukan tersebut pun dibuat seakan-akan konyol, nyeleneh, dan main-main tapi dalam maknanya. Dalam bermain musiknya pun, Yala mengungkapkan, bahwa konsepnya adalah kebebasan.
“Melabrak konseplah yah karena dia (Harry Roesli) itu kan gak suka dalam suatu pakem. Artinya gini kebebasan berekspresi itu kan tidak ada batasan. Contohnya gini, ketika saya tanya ke dia tentang musik jazz itu apa sih? Terus dia jawab ‘Kamu pengen tahu musik jazz?’ Terus dia bawa saya ke ruang studio piano saya pikir dia main piano dengan nunjukin chord jazz atau apa, dia cuma buka piano dia mainin piano pakai pantat. Tet. ‘Nah itu tuh jazz’ kata dia,” ucap Yala.
Yala pun mengungkapkan bahwa ditampilkannya anak-anak sekolah adalah guna regenerasi pecinta gamelan dan pendengar Harry Roesli. Saat diperkenalkan lagu-lagu Harry Roesli, anak-anak tersebut mengaku bingung bagaimana cara menikmati lagu tersebut. Namun hal tersebut adalah merupakan proses bagian dari cara mencintai musik. Yala juga ingin menyampaikan bahwa musik gamelan bukanlah musiknya orang-orang tua, namun juga bisa dinikmati dan dimainkan oleh anak muda.
“Ini satu cara buat mereka tertarik dengan gamelan, buat saya. Karena kalau kita perkenalkan gamelan dengan metode lama perlu waktu. Proses. Bukan mereka gak akan suka, kalau Bapak bilangnya gini. Kamu bukan gak suka musik, kamu belum. Ini salah satu cara supaya mereka punya regenerasi,” ucapnya.
Dalam pertunjukan tersebut, Yala memang ingin kembali memberikan suguhan seperti yang Bapaknya lakukan. Sesuatu yang barangkali di era sekarang jarang sekali ditampilkan di publik dalam bentuk pertunjukan utuh. Menampilkan pertunjukan semacam ini, menurut Yala, juga bagian dari memperkenalkan kembali warisan Harry Roesli karena di generasi sekarang sudah jarang yang mengenal Beliau.
“Mereka (anak-anak penampil) pertama dengar lagu Harry Roesli pusing, pertanyaan sederhana namanya anak muda, ini ‘musik kayak gini jogetnya kayak gimana?’ Mikirinnya joget yah? Tapi ya gitu, akhirnya mereka bisa eksplor dan akhirnya mereka malah senang dengan Harry Roesli dan kita harus akuilah, di generasi saat ini kan kita bicara Harry Roesli sudah banyak yang gak tau. Tapi ketika ada anak-anak, misi aku di situ, dengan adanya anak-anak muda yang main supaya mereka nyebarin ke teman-temannya,” ungkap Yala.
Penampilan Harry Roesli dengan segala macam bentuknya memang selalu patut untuk disaksikan dan diikuti. Dalam pertunjukan multimedia tersebut, kita seperti diberi kejutan-kejutan yang tidak terduga. Pertunjukan Harry Roesli yang suka menabrak pakem membuat banyak orang menjadi menunggu-nunggu ada keajaiban apa yang akan ditampilkan di atas panggung.

Dalam penampilan selama hampir satu jam tersebut, RMHR telah menampilkan banyak hal. Diantaranya sketsa pernikahan, pengamen yang tiba-tiba muncul dari bangku penonton, anak magang yang sedang latihan perkusi, hingga bermain musik dengan alat-alat dapur. RMHR seperti memanfaatkan segala macam kemungkinan yang bisa mereka hadirkan di atas panggung.
Meski terkesan nyeleneh, pertunjukan tersebut masih terkesan sakral saat Sekar Jepun dimainkan. Lirik dalam bahasa sunda yang diucapkan seperti semacam mantra yang memiliki daya magis.
Dina hate nu daria,
Da mi na,
Dipibanda ku balarea
Ngan hanjakal nyatana
Jadi pacengkadan,
yang berarti:
dalam ketulusan hati
da mi na (tangga nada Karawitan Sunda)
dimiliki semua orang
namun sayangnya kemudian
dijadikan perbantahan.
Lagu yang terdapat dalam album Titik Api tersebut memang sangat terkenal bagi pecinta musik progresif rock. Para penonton seperti dibawa ke dunia antah berantah yang mengawang-awang. Lagu-lagu dalam album Titik Api memang menurut banyak pengamat musik sebagai keberhasilan Harry Roesli membawa musik gamelan naik kelas. Musik gamelan dalam album tersebut berpadu asyik dengan alat musik modern hingga menghasilkan aransemen yang ajaib. Sebuah komposisi yang rasanya sampai saat ini belum mampu disamai oleh para musisi lain.
“Jangan matikan lampu meja kerja saya,” ungkapan dari Harry Roesli sebelum meninggal itu memang seperti diteruskan para pecinta karya-karyanya. Karya-karyanya yang telah merasuk hingga relung sanubari telah mampu memberikan suguhan yang luar biasa untuk para pecinta musik di Indonesia.
Penampilan tribute to Harry Roesli malam itu memang sebagaimana keinginan Yogyakarta Gamelan Festival yang tak hanya menghadirkan penampilan musik. Melainkan ruang penghormatan dan refleksi atas dedikasi Sang Maestro dalam merawat, menghidupkan, dan mentransformasikan gamelan sebagai medium ekspresi yang merdeka, lintas zaman, dan lintas batas.
Pertunjukan tersebut memang membuat banyak orang menjadi rindu dengan sosok Harry Roesli meskipun belum pernah bertemu atau bahkan menonton pertunjukannya. Dibuka dengan narasi tentang kematian; ditengahi dengan hingar bingar; lalu ditutup dengan Jangan Menangis Indonesia, pertunjukan itu memang mampu membuat para penonton berefleksi akan kehidupan yang terjadi saat ini.

Kondisi sosial masyarakat dengan segala carut marutnya yang belum mampu diatasi Pemerintah, disajikan secara menggelitik oleh para Laskar Si Bengal dari Bandung. Gerombolan dari Bandung ini memang seperti ingin membangkitkan spirit bermusik adalah bersenang-senang. Musik menjadi bisa dibawa kemana saja asal kita menyukainya. Syahdan, musik pun menjadi medium untuk mengutarakan gagasan pemikiran terhadap suatu kondisi tertentu.
Yah, lampu kerja yang tidak boleh dimatikan oleh Si Bengal itu seperti menjadi pesan bahwa jasad boleh mati, tapi spirit itu tak mati-mati. Semoga kita tidak pernah lupa bahwa di Bandung pernah ada sosok seperti Harry Roesli. Seorang musisi antik yang telah mewariskan buah pemikiran lewat lagu-lagunya.

Penulis lepas yang menyukai banyak hal. Mengerjakan banyak proyek kepenulisan di bidang musik, sepakbola, seni rupa, teater, dan beberapa pekerjaan jurnalistik lainnya. Penulis asal Lamongan ini sekarang sedang tinggal di Yogyakarta.
