Aghnia Amalia · 11.10.25 · Ulasan
Museum Macan Jakarta
24 Mei – 05 Oktober 2025
Dari judulnya saja, The Sea is Barely Wrinkled sudah memberi petunjuk: laut dengan permukaan nyaris datar, tapi menyimpan riak-riak kecil yang perlahan menumpuk menjadi ombak. Kei Imazu meminjam frasa ini dari novel Mr. Palomar karya Italo Calvino—adegan tentang seorang pria yang berusaha melihat satu riak laut secara utuh, hanya untuk menyadari bahwa setiap riak selalu terhubung dengan arus yang lebih besar. Frasa ini selaras dengan narasi pameran: sejarah tidak hadir sebagai satu garis lurus, melainkan lapisan-lapisan yang bergerak perlahan, saling menumpuk, dan tak pernah berhenti.
Sejak 2018, setelah pindah ke Bandung, Imazu memulai riset ekstensif tentang Sunda Kelapa dan sejarah kolonial di Nusantara. Ia tertarik pada bagaimana masyarakat lokal memaknai sejarah secara melingkar—di mana masa lalu dan mitologi hidup berdampingan dengan masa kini. Pameran tunggal perdananya di Museum MACAN adalah hasil dari pengamatan panjang tersebut.

Meski hanya menempati satu ruang galeri tanpa sekat, pameran ini dibagi menjadi tiga narasi: Bencana dari Pesisir, Tenggelamnya Ambisi Kolonial, dan Pengetahuan Leluhur. Ketiganya membentuk lanskap yang tidak linier, melainkan kolase—sebuah “peta waktu” yang mempertemukan memori kolonial, ekologi kontemporer, dan kosmologi lokal.
Bencana dari Pesisir
Bagian pertama menyoroti Sunda Kelapa sebagai pelabuhan dagang sekaligus ruang yang rapuh. Harbor View (2025) membuka pameran dengan kanvas besar yang menggambarkan pelabuhan seperti kota imajiner: detail arsitektur, air, dan fragmen manusia bertumpuk menyerupai kolase. Lanskapnya terasa sureal, seakan membayangkan Batavia yang hanya hidup dalam ingatan. Karya lain di bagian ini termasuk Sunda Kelapa (2024), Tanggul Laut Muara Baru (2024), dan Command 1 & 2 (2025), yang menggabungkan arsip sejarah dengan citraan pesisir.
Atmosfer ruang diperkuat oleh kain bergelombang di langit-langit. Bayangan yang jatuh menyerupai riak laut, membuat seluruh karya seolah berada di bawah permukaan air—tempat ingatan terendap lalu muncul kembali.

Tenggelamnya Ambisi Kolonial
Narasi kedua berpusat pada tragedi karamnya kapal Batavia tahun 1629 di perairan Australia Barat. Instalasi Batavia Ship (2025) menampilkan kerangka kapal dari resin, kain, dan pasir—lebih mirip reruntuhan daripada simbol kejayaan. Di ujung ruang, Slanted Portico of the Batavia Fort (2025) menghadirkan rekonstruksi gerbang batu VOC dalam posisi miring, lambang ambisi kolonial yang digagalkan oleh ganasnya laut.
Karya kunci di sini adalah kanvas raksasa The Sea is Barely Wrinkled (2025), bentangan sepuluh meter yang merakit artefak Batavia: keramik Tionghoa, meriam, astrolab, hingga rempah-rempah. Di latarnya muncul sosok perempuan membawa teko teh—apropriasi dari lukisan Nieuwenkamp berjudul Chinees Buurtje. Kutipan visual ini tidak ditampilkan utuh, melainkan ditindih gaya lain. Layering semacam ini membangun kesan palimpsest: sejarah selalu ditulis ulang, lapisan lama ditimpa lapisan baru.

Pengetahuan Leluhur
Bagian terakhir membawa mitologi sebagai kerangka lain untuk membaca sejarah. Instalasi Nyai Roro Kidul (2025) menampilkan figur penguasa laut dengan rok kawat berombak, berdiri tepat di depan Batavia Ship. Penataan ini terasa simbolis: kapal VOC—lambang kolonialisme—ditempatkan di belakang Nyai, seolah diingatkan bahwa kekuatan kosmologis laut selalu berhak menelan proyek kekuasaan kolonial. Karya ini dipasangkan dengan The Land Lost to the Sea (2025), yang menghubungkan figur Dewi Sri dengan perubahan ekologi pesisir, menegaskan bagaimana mitos juga menyimpan pengetahuan tentang alam.

Ruang Lintas Narasi
Menariknya, pameran tidak berhenti pada Sunda Kelapa. Tiga karya yang lebih awal—Amorphous Mother (2020), Cut Meutia (2018), dan Teardown the Van Heutsz Monument (2025)—muncul sebagai “anomali”. Teardown menghadirkan wajah Van Heutsz, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang dikenal sebagai “Pacificator Aceh”, dalam keadaan retak dengan efek gerak, seolah monumen runtuh. Di sisinya, lukisan figur Cut Meutia berdiri tegak. Keduanya memperlihatkan bagaimana ingatan kolonial terus dinegosiasikan, bahkan setelah monumen dirobohkan.
Kehadiran karya tentang Aceh di tengah narasi Sunda Kelapa membuka spekulasi: mungkinkah ini embrio dari seri baru Imazu, yang membentangkan “peta waktu” kolonial di berbagai daerah? Jika ya, The Sea is Barely Wrinkled bisa menjadi pintu masuk menuju proyek lebih luas.
Riak yang Terus Bergerak
Pameran ini memperlihatkan riset ekstensif, dari arsip VOC hingga mitologi lokal. Hasilnya adalah narasi yang tidak jatuh pada romantisasi, tapi juga tidak hanya kronik kolonial. Imazu menawarkan cara baca lain: sejarah sebagai laut—lapisan demi lapisan yang terus bergerak.
Sebagai pengalaman, pameran ini bekerja di banyak skala: kanvas raksasa menampilkan panorama, detail-detail kecil mengundang kedekatan, instalasi tiga dimensi memberi sensasi tubuh. Berdiri di antara Nyai Roro Kidul dan kapal Batavia, sejarah terasa bukan lagi cerita lampau, melainkan ruang hidup.

Pada akhirnya, The Sea is Barely Wrinkled menegaskan bahwa kolonialisme bukan masa lalu yang beku. Ia masih beriak dalam banjir Jakarta, penurunan tanah, dan rapuhnya ekologi pesisir. Imazu mengajak kita membaca arsip sekaligus merasakan bagaimana riak-riak itu membentuk ombak besar—sejarah yang terus menelan sekaligus melahirkan.

Selain menjadi kontributor Urakan Magazine, Aghnia Amalia juga aktif menulis ulasan dan opini pribadi mengenai berbagai karya seperti buku dan film di kanal Substack maupun Twitter/X pribadinya.
