Rafael Marius · 20.06.25 · Ulasan
English · Deutsch
ara contemporary Jakarta
17 Mei – 21 Juni 2025
Habis ‘semuanya’ terbitlah ‘yang lalu-lalu’, begitu sekiranya yang terungkap dari dua pameran perdana ara contemporary, sebuah ruang pamer kubik putih baru di Jakarta selatan, bila dibaca sebagai suatu runutan. Pameran perdana mereka, We Begin with Everything, membingkai kehadiran ara dengan merefleksikan akar dari proses artistik berbagai seniman dalam memberikan pijakan yang akan datang. Bermula dengan segalanya membuat ara, yang juga tengah memulai, menempatkan acuan tentang siapa galeri mereka sekaligus publik seperti apa yang mereka bayangkan: terfokus dengan seniman dan terfokus pada kawasan Asia Tenggara. Pameran mereka terkini, Once Was, diadakan sebagai pameran tunggal dari perupa-cum-performance artist, Iwan Effendi yang banyak bergerak di ranah pentas boneka. Karya Iwan pun selain bertanggung jawab pada dirinya sendiri juga bertanggung jawab merealisasi visi misi ara yang sudah melewati perayaan kelahirannya.

Iwan Effendi tentu bukan pemain baru dalam skena seni kontemporer. Semenjak 2006, ia bersama dengan istrinya, Maria Tri Sulistyani, sudah lama bergerak dalam Papermoon Puppet Theatre, kelompok seni pertunjukan berbasis boneka di Yogyakarta. Iwan sendiri sudah pernah berpameran tunggal di Jakarta 2021 silam lewat ‘Daydreaming Face’ di RUCI Art space. Yang Iwan dan ara ingin bawa ke Jakarta hari ini ialah repertoire pertunjukan teater boneka tanpa dimensi pertunjukan dalam kerja bingkai seni visual: peristiwa hilangnya dalang. Iwan yang banyak bekerja merancang boneka di Papermoon Puppet Theatre menghadirkan citraan boneka yang tak bergerak atau telah bergerak dalam ingatan materi yang hadir.
Tata ruang ara memecahkan laju pameran menjadi dua babak, lantai atas (Exhibition Room) dan lantai bawah (Focus Room). Memeriksa catatan kuratorial Once Was, yang ara coba gapai ialah membicarakan dimensi transformasi dari bermain teater boneka pada tataran ‘tindak yang lalu’ sehingga meninggalkan suatu jejak opaque. Dengan kata lain, dari hilangnya dalang dari benak penonton terhadap panggung, Iwan juga menemukan sisa daripada gerak melalui usungan bahasa visual: smudge keabu-abuan dari gambar charcoal yang telah dihapus. Lantai satu lebih ketat mengurai kerangka tersebut dengan menghadirkan video berupa stop-motion daripada banyak panel drawing yang hadir di ruang. Video berjudul wanting to hold needing to let go (2025) menunjukkan sejarah terproyeksi dari pada smudge keabu-abuan yang hanya bisa penonton alami ketika melihat 7 drawing yang tersebar di lantai satu. Iwan bercerita kalau ia mengerjakan video dengan hitungan 10 frame per detik atau 10 kali menggambar dan menghapus untuk setiap detiknya untuk menghasilkan video kurang lebih satu menit sebanyak tujuh kali. Secara topik, Iwan melepas bagasi keterancangan ataupun konsep namun mengacu pada stimulan di luar dirinya seperti berita ataupun masukkan dari anaknya. Luaran atau jejak dari stop motion yang hadir dapat kita bandingkan dengan efek visual dalam Nude Descending a Staircase, No. 2 (1912) karya Marcel Duchamp saat menghadirkan impresi gerak melalui keberlapisan elemen visual. Efek filmis yang dihasilkan oleh interval antara bingkai-ke-bingkai ini tak hanya Iwan gunakan untuk mengilusikan gerak tapi mengintervensi materi kertas tempat ia menggambar dengan efek visual smudge keabuan sebagai ingatan gerak yang menyatakan, justru, tertinggalnya dalang.

Lantai bawah dari ruang pamer ara contemporary yang dinamai sebagai Focus Room melepas intensitas bingkai kepada urusan-urusan lain yang juga ingin dibopong oleh Iwan. Seperti perihal sejarah Genosida 1965 yang tak Iwan bedah melalui konsep historis tapi pengalaman dituturkan lewat Contact point (2025, 7 seri drawing). Iwan bertutur karya ini berangkat dari ‘tugas rumah’ anak-anak muda yang tengah berlatih di Papermoon Puppet Theatre untuk bertanya ke keluarga di kampung halaman mereka tentang apa yang terjadi dari periode ini. Di sini, anggap saya, eksperimentasi visual Iwan sedikit tak bekerja bersama dengan motif ‘wajah’ yang berpotongan dengan seni pertunjukannya. Lebih spesifik, ‘motif wajah’ yang saya rujuk ialah dua titik mata kecil yang ia bingkai sebagai ‘wajah lamun’. Wajah ini ia temukan sebagai wajah yang paling sesuai dalam mempresentasikan peristiwa teater boneka lantaran memberikan keleluasaan lebih bagi dalang untuk membangun emosi melalui gerak lantaran bekerja dengan konsep ‘pertunjukan non-verbal’. Kemunculan wajah ini dalam seri contact point rasanya terhenti di representasi ilustratif dari repertoire visual Iwan pada situasi yang lain alih-alih menggapai imajinatif. Perpotongan antara raut lamun, gestur contact point juga kurasi Once Was tak gapai spesifisitas wahana yang dibicarakan dengan tegas pada lantai satu ataupun kehadiran boneka-boneka tanpa dalang yang menggantung di kedua lantai.


Putusan ara untuk memamerkan persoalan ingatan dan keberjejakan dari seniman yang menjelajah interdisipliner akhirnya merefleksikan hasrat mempersoalkan keidentitasan suatu kawasan. Praktik Teater Boneka Iwan mempertemukannya dengan absen kata dalam bahasa Indonesia yang menggolongkan boneka untuk dipentaskan (puppet) dan boneka untuk dipajang (dolls). Megan Arlin, salah satu pendiri ara, mengatakan bahwa temuan-temuan dari praktik artistik tentang kawasan ini yang sebenarnya ingin ditempatkan sebagai keunikan atau boleh kita sebut sebagai identitas dari galeri miliknya bersama dengan Fredy Chandra dan Fiesta Ramadanti, trio pendiri ara. Ketiganya, setelah menyambut saya dan kawan-kawan, mulai mempersiapkan presentasi mereka malam nanti ke kawan-kawan lainnya. Disela-sela keluar masuk panggung wawancara, kami berbincang sedikit.

· · ·
Terdapat tiga ara yang menduduki segala waktu: ara yang selalu ada di antara conversation over cigarettes selama mereka bekerja di galeri luar, ara yang kini menyewa ruang bekas kost-an di Jl. Tulodong, dan ara sebagai kerangka yang terencana dan terpupuk dari pameran ke pameran. Sepuluh tahun bekerja di berbagai ruang dan kegiatan budaya menempatkan trio pendiri ara dalam keterlekatan dalam dunia seni lokal dan global. Keterlekatan ini bisa kita pandang selayak smudge charcoal di kertas Iwan Effendi, suatu bekas yang mengatur bangunan keputusan ara, semisal, membingkai Asia Tenggara. ‘Kami percaya apa yang kami pahami, kalau mencoba mengerucutkan apa sih expertise kamu,’ sampai Danti ketika merefleksikan kawasan ini. ‘Asia tenggara menjadi alat untuk kami berkomunikasi dengan audiens global dan kami mulai dengan sesuatu yang paling kami mengerti,’ tambah Megan. Artinya dalam ara sediri terdapat suatu histori yang ko-eksis pada permukaan space baru ini namun tampak-tak-tampak dalam posisi hari ini.
Apa yang membangun ara anggap ketiga pendirinya ialah etos berdiskusi. Conversation over cigarettes bertransformasi ke etos bekerja dengan diskusi mendalam dan terbimbing bersama seniman, bahkan dua tahun sebelum batu bata pertama di letakan di galeri mereka sekarang. Megan menerangkan bahwa yang ara lihat dari karya seniman ialah cara mereka membentuk pemahaman akan riset atau cara berpikir dan keposisian seniman. Tentu hubungan antara semacam kerja kartografis kawasan juga terdukung dengan jejak-jejak mereka dalam periode Pra-ara, yang tak hanya muncul melalui wicara tapi juga pijakan hubungan yang telah terjalin dengan etos diskusi. Tak bisa kita bandingan dengan misal trio lain yang juga baru memulai tanpa smudge-smudge gerak yang jarang kita refleksikan. Dalam konteks kolaboratif atau kerja kuratif ara, etos diskusi juga hanya muncul dengan hubungan yang telah ada seperti komentar Danti ‘Tentu kami ingin juga bekerja secara institusional tapi untuk sekarang akan kami lakukan yang kita bisa’. Dengan demikian, ara juga membicarakan jejak-jejak 10 tahun seni kontemporer yang dihadirkan kembali dalam ruang ini.

Perumusan ‘Kerangka ara’ oleh trio pendiri masih terlalu dini untuk duji ada atau tidaknya. Melalui Once Was dan We Begin with Everything, ara baru menyentuh sedikit persoalan ‘menjadi Asia Tenggara’ ataupun memahami Asia Tenggara lewat strategi berpameran yang bertumpu pada temuan artistik oleh seniman. Sebagai ruang pamer, ara perlu bertindak sebagai perantara dari wicara wacana antar seniman dan publik yang kini mengingat proposal mendasar yang mengawali kehadiran ara. Beberapa agenda yang terencana atau terucap selama bincang kami nampaknya ingin melanjutkan kerangka tersebut dengan memperluasnya pada definisi lebih lentur tentang ‘keasiatenggaraan’ lewat Carmen Ceniga Prado, seniman spanyol yang (dalam bacaan ara) terpengaruh oleh praktik di Asia Tenggara. Lebih jauh, pemisahan antara ‘exhibition room’ dan ‘focus room’ juga akan dipertegas dengan mengadakan dua peristiwa seni berbeda secara simultan dibawah atap galeri. Dari begitu terencananya kinerja galeri baru ini, terdapat penegasan bahwa jejak-jejak bekerja pra-ara turut mengambil bagian dalam cita-cita mereka esok. Suatu ruang baru dari wicara di antara rokok baru yang membayangkan bahwa kerang ara benar-benar ada dan dapat diwujudkan.

Mahasiswa tingkat akhir tata kelola seni di ISI Yogyakarta. Kerap terlibat di beragam festival film di Indonesia. Berfokus seputar film dan seni rupa.
