• Tentang
  • Editorial
  • Kategori
    • Berita
    • Ulasan

URAKAN

Intersubjektivitas dalam Labirin Gen-Z

Titik Kumpul Forum & Collective mengeksplorasi bagaimana mitos dunia kerja bagi generasi muda terbentuk melalui pameran “In(dies) Economy.”

Kezia C Y. Rantung · 06.08.25 · Ulasan
English · Deutsch

JNM Bloc Yogyakarta

16 Maret – 15 April 2025

Mitos tentang dunia kerja yang ideal, sering kali diwariskan dari generasi ke generasi; sebuah narasi tentang stabilitas, produktivitas dan kesuksesan yang penuh dedikasi. Mitos ini berkembang dari sejarah panjang bilik kerja, yang telah mengalami transformasi sejak era Renaisans. Pendeta eropa  abad pertengahan menyalin manuskrip menggunakkan tirai, kemudian berkembang pada abad ke-19 di lingkungan birokrasi modern, dimana kantor-kantor mulai menerapkan sistem pemisahan ruang berdasarkan fungsi dan hierarki. Hingga akhirnya, pada 1960-an, Robert Propst memperkenalkan cubical sebagai solusi untuk meningkatkan fleksibilitas dan produktivitas karyawan. Namun, dalam praktiknya, cubical justru menjadi simbol isolasi dan mekanisasi tenaga kerja. 

Pameran bertajuk “In (dies) Economy” oleh Titik Kumpul Forum & Collective mengeksplorasi bagaimana mitos-mitos ini terbentuk dan beroperasi dalam sistem ekonomi saat ini, terutama bagi generasi Z. Di tangan para seniman muda yang mengisi pameran ini, mitos tentang dunia kerja yang ideal mengalami dekonstruksi. Pameran ini mengajak kita untuk mempertanyakan ulang makna kerja dalam lanskap ekonomi yang terus berubah, para pekerja yang berada dalam ketidakpastian sistemik dan ekspansi digital. In (dies) Economy  menawarkan labirin sebagai metafora utama dengan bilik yang menampung spekulasi seniman yang membawa para pengunjung ke ambangan ruang privat dan ruang kerja.

 Setiap labirin membahasakan kegelisahannya dengan berbagai bentuk: Kay Saputra  (2025) menawarkan objek gambar yang dimanipulasi dengan teknik digital sehingga menghasilkan sebuah gambar dengan pixel ukuran besar yang memberikan keburaman makna dari gambar tersebut. Selain itu, Kay menggunakan layar komputer dengan kamera yang menangkap gerak pengunjung yang duduk di depannya dan mengubahnya menjadi susunan kode-kode sehingga citra yang ditampilkan di layar terdistorsi menyerupai kaca yang pecah.  Karya An Assortment of Pixelated Items, mencerminkan realitas kerja yang semakin terdigitalisasi. Secara konsep, pixelasi menjadi simbol hilangnya kejelasan identitas individu dalam sistem kerja yang berulang. Pengunjung yang mengamati karya ini secara tidak sadar turut terlibat dalam proses decoding makna, membangun pemahaman berdasarkan pengalaman pribadi mereka terhadap dunia kerja. Sedangkan karya Ason (2025), menggunakan media kertas yang dicetak menyerupai koran dengan tajuk karya Dekonstruksi Pocong: Karangan Bunga Padi Tumbuh,  dalam biliknya terdapat rak berisi koran buatan, buku catatan, asbak, dan replika senjata api. Ason memperluas eksplorasi mitos dalam konteks budaya dan sejarah.

Dengan mencetak koran buatan dengan tahun terbit 2002 yang menarasikan pocong sebagai fenomena ilmiah maupun politik. Ason mengajak audiens untuk merenungkan bagaimana mitos, baik tentang hantu, maupun kerja yang dibentuk dan diwariskan melalui media. Koran yang terpampang dinding dihalangi oleh kawat besi sehingga menghalangi teks memperkuat gagasan bahwa informasi selalu memiliki bias dan konstruksi tertentu yang membentuk pemahaman kita.  Karya ini mencoba mempertanyakan kembali akar bahasa dan kata yang diamini masyarakat dari generasi ke generasi. Selanjutnya di bilik karya Tocka (2025), ia menawarkan spekulasi lainya berupa instalasi bermaterialkan kain grey (greige) dan benang yang dijahit sehingga menyerupai suatu objek; komputer, mouse, keyboard, dan boneka voodo. Selain itu terdapat papan pengingat yang bertuliskan DAYS WITHOUT CRYING, March full of tears.


Tocka menambahkan elemen interaktif dalam karyanya, berupa kain kuning berbentuk notes masing-masing kain kuning bertuliskan “want” “I” “so” “THEY” “use” “to” “do” yang dapat disusun ulang oleh pengunjung sehingga memberi impresi bahwa pengalaman kerja tidak bersifat statis, ia  terus berubah seiring dengan cara kita memaknainya. Ruang kerja yang dihadirkan oleh Tocka menjadi refleksi atas perjuangan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. 

 Pameran ini tidak hanya menampilkan seni sebagai objek estetis tetapi juga sebagai medium dialog yang aktif pada setiap bilik dengan interaksi yang disajikan dengan karakter yang berbeda-beda. Dimensi interaktif inilah yang menuntun pengunjung ke dalam labirin-labirin penuh spekulasi atas kerja dan ruangnya yang selayaknya dapat dinegosiasikan, diredefinisi, dan bahkan ditertawakan. Juga mitos tentang ruang kerja yang ideal dapat dipatahkan melalui keberanian untuk membangun makna baru.


Kezia C.Y Rantung

Penulis dan musisi yang berasal dari Manado ini sudah menerbitkan dua buku: “Wewene Sanggar Waktu” (Kumpulan Dongeng Perempuan Minahasa) dan “Catatan-catatan yang Berserakan di Atas Ranjang.”



URAKAN adalah majalah untuk seluruh pelaku ekosistem seni. Kami menyajikan refleksi, ulasan, dan berita dengan arahan filosofi editorial yang otentik.

Ikuti kami untuk mendapatkan informasi setiap kali kami menerbitkan artikel terbaru. Untuk ikut berkontribusi, klik di sini.

← Back

Thank you for your response. ✨

Warning
Warning
Warning
Warning.

 

Loading Comments...
 

    • Subscribe Subscribed
      • URAKAN
      • Already have a WordPress.com account? Log in now.
      • URAKAN
      • Subscribe Subscribed
      • Sign up
      • Log in
      • Copy shortlink
      • Report this content
      • View post in Reader
      • Manage subscriptions
      • Collapse this bar