• Tentang
  • Editorial
  • Kategori
    • Berita
    • Ulasan

URAKAN

You Promise Me Rage, Instead I Got ‘All That Is Sold Means Invoice Cair’

Rage Against the Muchsin menghadirkan kesia-siaan sebagai strategi estetik. Melalui gimmick, meme, dan mesin-mesin yang tak berguna, Argya Dhyaksa menyingkap cara kerja ekonomi perhatian.

Rifki Akbar Pratama· 30.01.26 · Ulasan
English

Orbital Dago Bandung

13-18 Januari 2026

Lima buah tempe goreng—tempe betulan, alih-alih replika—ditempel satu sama lain, menyerupai kubus terbuka, menempel di dinding dengan sokongan balok kayu persegi. Di tengah-tengahnya terisi gulungan fotokopi ijazah, besar kemungkinan palsu, berfoto, bertuliskan “Universitas Gadjah Mada, Fakultas Kehutanan”, nama tertera tipis-tipis: Joko Widodo. Arah olok-oloknya nyaris tak perlu ditebak saat kita diminta mengoplos ijazah, gorengan, dan balok kayu jadi satu. Persoalan ijazah yang sempat membuat gaduh itu hanyalah satu dari sekian bahan kelakar dalam Rage Against the Muchsin presentasi tunggal Argya Dhyaksa—seniman yang lebih tua dari google ini.

Sisanya, dengan sedikit mereka ulang konsepsi Sianne Ngai, adalah pusparagam juga purwarupa dari estetika tipu daya (aesthetic of the gimmick).1 Dalam Rage Against the Muchsin (RATMuchsin), model penaksiran estetis inilah yang disuguhkan Argya melalui dua modus presentasi. Pertama, ia bekerja terlampau keras untuk menghadirkan sesuatu—demi menuai perhatian—yang berhasil menjadi kesia-siaan. Kedua, ia bekerja terlampau enteng untuk menghadirkan sekian fragmen bagi presentasi tunggalnya—yang pada akhirnya tetap layak disebut sebagai pameran seni. Singkat kata, Rage Against the Muchsin adalah mimik dari bagaimana cara gimik bekerja sekaligus momok di saat yang sama, karena bekerja di atas sebuah kesia-siaan.

Saat tai kucing—dalam bentuk keramik—jadi sorotan utama, kita tahu, tak bijak rasanya membaca corak presentasi Argya dari sudut pandang konvensional. Salah satu cara termudah adalah dengan menyepadankan RATMuchsin dengan struktur otak termasuk sistem limbik di dalamnya. Hanya saja, pendekatan ini mudah tergelincir menjadi sok pintar. Oleh karenanya, membacanya dari sudut pandang perbintangan menjadi cara lain yang menarik dan layak dicoba sebagai uji coba. Sebagai seniman berbintang Leo ada banyak hal yang dapat dikupas dari Argya, selain obsesinya pada tablet effervescent. Karena alasan perbintangan itu pulalah, kita perlu menghentikan semua ini dan menggeser kembali pembicaraan pada kekaryaan. Persis seperti rangkaian kalimat tepat sebelum kalimat yang anda baca ini cara karya Argya kali ini bekerja: mempekerjakan kesia-siaan. 

RATMuchsin ialah mesin reproduksi kesia-siaan. Dengan demikian, untuk sampai derajat tertentu: kebahagiaan, lewat kebermainan. Kita bisa menilik ini dari “mesin” yang ia taruh di tengah ruangan. Bolehlah kita bilang, karya di tengah ruang pameran tersebut adalah tiruan mesin Rube Goldberg. Seorang kartunis yang terkenal dengan reka cipta yang muspra—menjadi kompleks untuk kepentingan yang sepele. Dalam kasus Rube Goldberg: alat rumit untuk mengelap bibir, alat pelik buat meraut pensil, dan sebagainya. Dalam kasus Argya: lintasan kelereng rumit untuk membunyikan xylophone dan kembali memasukkan kelereng ke mangkuk awal dan—satu rute yang lain—alat luncur kelereng ke litter box berisi pasir kucing beserta replika tai kucingnya. Satu lagi, di sampingnya bertuliskan “PIPIS 1000, BERAK 2000, I LOVE U 3000”. Tahan emosi anda, Argya telah mewanti-wanti sedari titik mula—lewat karya keramik berhiaskan komik Shizuka dengan balon kata: udah abang2 ini cuma seni.

RATMuchsin ialah sebuah oplosan ketaklaziman serta kelakar yang beredar di dunia maya yang merembes ke dunia nyata. “Ini cuma seni,” adalah pernyataan retoris soal bagaimana seni bisa ‘bekerja’ di tengah peliknya ekonomi perhatian. Meski tak benar-benar baru, cara kerja Argya ini menarik untuk dicatat guna membongkar gerak perhatian kita dalam media sosial belakangan. Poin penting dari kekonyolan yang ia sajikan adalah jawaban kita atas pertanyaan, “Apa yang membuat kita mengalihkan perhatian?”

Di dalam RATMuchsin Argya mencatat: “Di dalam pameran Rage Against the Muchsin ini ada beberapa peraturan yang dianjurkan untuk dipatuhi setidaknya selama di dalam ruang pamer, namun peraturan ini tidak berlaku ketika Anda sudah berada di luar ruang pamer karena semua hal di luar ruang pamer sudah berada di luar kuasa saya”. Kalimat sepanjang 47 kata itu tertera pula dalam kertas yang tertempel di dinding ruang pamer RATMuchsin dan jadi pembuka daftar Dos n Don’ts. Dalam Don’ts, larangan-larangan itu bergerak dari yang banal hingga yang ganjil: Menendang ibu hamil hingga tersungkur (kalau sudah terlanjur segeralah meminta maaf), Bilang pernah padahal belum pernah, Menyelenggarakan pernikahan, Menyetel lagu Juicy Luicy dengan volume kencang, Membawa anak kecil (2cm), Berdebat mengenai Biennale Jogja hingga timbul perasaan ingin saling menyakiti, Tidak bersyukur ketika memiliki privilege, hingga, Berpikir dalam hati “ah kalau kaya gini doang sih saya juga bisa.”

Nuansa komedik ini berlanjut dalam daftar Do yang dianjurkan Argya: seperti, Membebaskan budak, Menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ini, Membebaskan budak, Memakai kaos Uniqlo, Mencoba berpikir secara logika, ayo pikirkan secara logika, Melukis lukisan abstrak, Melunasi hutang, Melihat YouTube sambil makan, Kembali ke masa lalu berulang kali untuk melarang orang yang kamu sayangi berhenti merokok, hingga Mendirikan kolektif walaupun sudah tahu nantinya akan bubar dan memicu konflik horizontal. Sampai di titik ini, sebagian dari pembaca mungkin menyadari bahwa daftar yang terentang sepanjang dua paragraf tadi tak hanya bekerja sebagai elemen deskriptif. Ia adalah bahan refleksi atas pertanyaan terakhir yang ditanyakan, “Apa yang membuat kita mengalihkan perhatian?”

Jawaban yang hadir bisa beragam, tapi tampaknya RATMuchsin mempraktikkan petuah seorang pemasar, “Jika kamu menyadari bahwa kamu tidak akan mampu menyamai pencapaian dengan cara yang sama, buatlah daftar cara untuk menyamainya dengan menjadi berbeda.” Dan itulah dia, yang membuat perhatian kita teralih, perbedaan yang kontras (atau dalam kesempatan lain kesamaan yang terselubung; seolah-olah tampak sama). Tepat di sinilah ia terhubung dengan gimik sebagai tampilan kapitalistis (capitalist form). Perbedaan itu jadi alat tukar bagi terpusatnya perhatian kita. Dan di sanalah, gimik bekerja. Ngai menyebutnya, dalam Theory of the Gimmick, sebagai “estetika khas dari suatu moda produksi yang mengaitkan nilai dengan kerja dan waktu.”

 Bersamaan dengan teralihnya perhatian kita bekerjalah gimik bersamanya. Kita membayar sesuatu yang kemudian dirasa sia-sia dengan waktu dan kerja-perhatian kita. Dalam terma International Art English, “paying attention”. Di sini poin penting dalam estetika tipu daya kemudian hadir. Saat anda ingin mengumpat lantas mengesampingkan keberhasilan pengalihan perhatian dari gimik yang membuat anda merasa membuang waktu. Mengutip kelakar Argya sebagai parafrase atas hal terakhir ini: “ah kalau kaya gini doang sih saya juga bisa.” 

Ngai menyebut ambivalensi ini sebagai kewajaran saat kita berjumpa dengan gimik. Komentar ‘kaya gini doang’ memuat penaksiran kita soal gimik sebagai akal-akalan penghematan tenaga kerja (labour saving tricks). Persis, karena Argya bekerja terlampau enteng, alih-alih membuat karya yang bukan main bagusnya secara teknik untuk pamer kepakaran. Di sisi lain, Argya juga bekerja terlampau keras, menyusun semua fragmen keramik dan serumpun benda temuan sebagai alat tukar perhatian. Tapi di sela-sela itu semua, satu kombinasi dimanfaatkan Argya dan potensial dipakai, secara reflektif, untuk keluar dari lubang perangkap yang hadir bersama gimik sebagai modus ilusif estetis kapitalisme itu sendiri: rumpun meme komedik. 

Argya memanfaatkan betul meme komedik dalam RATMuchsin. Sebagian mengambil bentuk cerameme, lakuran dari ceramic dan meme, yang mengadopsi tampilan meme ke dalam material keramik. Ambil contoh Sucipto si ikan hiu blur atau Macan Putih Kediri yang mirip kuda nil. Sebagian yang lain, mengambil parodi kekaryaan seniman lain, sebut saja, “You Promised Me Interstellar Instead I Got Ipar Adalah Maut” yang merujuk ke Nurrachmat Widyasena, atau karya inversi seri “The Reverse of Things” dari Adytria Negara, hingga parodi sampul buku Agung Hujatnikajennong yang malih jadi “Kurasa Kuaci”. Referensi-referensi ini bekerja bukan untuk dikenali sepenuhnya, melainkan untuk lewat begitu saja. Sampai di sini, serumpun komedi itu sendiri, jika kembali merujuk Ngai, masihlah menyertakan sifat khas dari gimik yang “memunculkan seperangkat abstraksi unik yang dihasilkan secara kolektif, serta bentuk-bentuk sosialitas yang secara khas bersifat asosial.” 

Hal terakhir yang disebut adalah poin yang perlu kita perhatikan, elemen penting meme adalah sosialitasnya. Namun, di saat yang sama ia menghalau kita mengenali elemen spesifik yang membuatnya mungkin—kerja para pembuatnya. Demi sirkulasi, yang diharapkan cepat dan mudah, kespesifikan itu menjadi sulit. Meme yang berhasil biasanya menenggelamkan nama pembuatnya. Pada akhirnya, yang kita dapat genggam semata format yang tersirkulasi terus-menerus. Ia adalah bentuk lain dari ‘akal-akalan penghematan tenaga kerja’ yang menyeret kembali kita ke sirkuit kapitalisme kognitif. Dalam RATMuchsin, ini terantisipasi dengan menghadirkan satu modus kespesifikan di tengah hamparan kesia-siaan: politik ingatan. Kemungkinan ini lagi-lagi digapai Argya lewat komedi.

Bila dalam karya lain di RATMuchsin Argya masih tahu diri dalam bergurau, ia melampaui hal tersebut tepat di sudut ruangan Orbital Dago. Seonggok lukisan ditaruh di atas pustek. Di dinding tempat lukisan bersandar tertera “ARAHKAN LUKISAN (?) INI KE SENTER DI DALAM UNTUK MENDAPATKAN EFEK PENYESALAN” Bila instruksi tersebut diikuti, maka anda akan menemukan piring di samping senter yang menyala bertuliskan “NYESEL KAN UDAH NURUTIN?” yang tak tampak sebelum kita mendekat. Ini salah satu penegasan bahwa dalam RATMuchsin, sebagaimana dengan gimik sebagai pengalaman estetis yang tertaut pada yang non-estetis, dapat dengan mudah seketika menjadi pengalaman yang sia-sia. 

Bila keseluruhan ruang RATMuchsin dibangun dari kesia-siaan semata, lalu apa yang penting? Di antara mesin marble run nirfaedah, foto Nurdian Ichsan, juga QR untuk memesan gorengan dari Warung Bu Gati—yang tak jadi soal untuk kita lupakan—terselip satu adegan kecil yang berbuntut panjang. Sebuah miniatur mobil polisi melindas figur manusia dari keramik. Fragmen ini tak berdiri sendiri; ia terhubung pada kejadian nyata. 28 Agustus 2025 adalah tanggal kematiannya. Affan Kurniawan tidak sendirian sebagai korban, karena setidaknya ada 9 lainnya. Di tengah hamparan senda gurau RATMuchsin jadi macam pengingat. Ia menyertakan jeda untuk mengubah komedi menjadi eulogi. Semacam catatan atas tuntutan keadilan yang terus tertangguhkan. Rage Against the Muchsin boleh jadi bekerja sebagai risalah kemarahan di tengah rezim ekonomi perhatian. Bahwa, pergulatan manusia melawan kekuasaan yang zalim adalah perjuangan merawat kemarahan melawan lupa.


1 Sianne Ngai, adalah kritikus sastra dan teoretikus budaya kontemporer, karyanya banyak menelisik bentuk-bentuk (aesthetic forms) dan penaksiran estetis (aesthetic judgment) yang berada di tengah dunia sosial dalam jerat kapitalisme tingkat lanjut. Di dalam Theory of the Gimmick: Aesthetic Judgment and Capitalist Form (Cambridge: The Belknap Press of Harvard University Press, 2020), ia mengambil fokus gimmick sebagai bentuk estetis khas kapitalisme: sebuah perangkat yang meragukan karena bekerja “terlalu keras dan/atau terlalu malas”, menjanjikan penghematan tenaga kerja juga waktu tetapi juga memunculkan keraguan atas nilai ekonominya. Dalam pameran Argya Dhyaksa, gimmick banyak dipekerjakan dan dikerjai. Salah satunya lewat stiker transparan gratisan—lebih tepatnya stiker kotak-kotak seolah-olah transparan macam PNG—ia bekerja keras untuk sebuah kesia-siaan. 


Rifki Akbar Pratama

Rifki Akbar Pratama terlibat di medan kerja kesenian lewat penelitian, fasilitasi, moderasi, dan penulisan. Belakangan ini menulis soal sejarah kekaryaan, atensi ekonomi, kondisi kerja, juga sistem kerja kesenian. Bersama Ufuk, ia memanfaatkan penerbitan non-konvensional sebagai modus redistribusi di Jakarta Biennale 2021. Ia menaruh perhatian lebih pada persilangan sejarah dan psikologi, terutama politik afek pun sejarah perasaan golongan kiri pasca 1965. Bersama KUNCI Study Forum and Collective, ia menyusuri pedagogi kritis, praktik artistik, serta produksi pengetahuan.



URAKAN adalah majalah untuk seluruh pelaku ekosistem seni. Kami menyajikan refleksi, ulasan, dan berita dengan arahan filosofi editorial yang otentik.

Ikuti kami untuk mendapatkan informasi setiap kali kami menerbitkan artikel terbaru. Untuk ikut berkontribusi, klik di sini.

← Back

Thank you for your response. ✨

 

Loading Comments...
 

    • Subscribe Subscribed
      • URAKAN
      • Already have a WordPress.com account? Log in now.
      • URAKAN
      • Subscribe Subscribed
      • Sign up
      • Log in
      • Copy shortlink
      • Report this content
      • View post in Reader
      • Manage subscriptions
      • Collapse this bar