Skip to content
  • Tentang
  • Editorial
  • Kategori
    • Berita
    • Ulasan

URAKAN

Titik Balik Kepedihan

Melalui pameran solonya yang bertajuk Solstice, Vicky Saputra menunjukkan hasil praktik pirografi surya. Di tengah dunia yang beroperasi 24/7, dia memilih bekerja tiga jam sehari dan menyerahkan sisanya pada matahari.

Rifki Akbar Pratama· 21.03.26 · Ulasan
English

Sumsum Gallery Yogyakarta

11 Februari – 5 Maret 2026

Tiap pergantian musim, langit Pesisir Barat dihiasi ratusan spesies burung terbang alih tempat. Salah satunya makhluk mungil yang saban tahun menempuh perjalanan ribuan kilometer, ulang alik, seolah jarak hanyalah perkara kebiasaan: burung gereja bermahkota putih. Ia melintasi Alaska hingga Meksiko utara, lalu berbalik arah ketika musim semi tiba. Tak seperti jenis yang lain, ia mampu terjaga jauh lebih lama.

Selama bermigrasi, tubuh kecil itu dapat tetap terjaga mengudara setidaknya tujuh hari lamanya. Sekumpulan peneliti menaruh perhatian. Departemen pertahanan AS menangkap sesuatu yang lain: sebagai kesempatan. Tanpa buang waktu, mereka segera merogoh kocek untuk membiayai penelitian. Tubuh yang tak perlu tidur rupanya terlalu berharga untuk dibiarkan sekadar terpaku jadi catatan kaki jurnal ilmiah. Ingin menerapkan daya tahan itu ke tubuh manusia, lantas mengubahnya jadi pasukan yang senantiasa terjaga, menjadi kemungkinan terjauh dari pikiran pendek mereka.

Kisah soal burung gereja bermahkota putih itu berlanjut dalam halaman-halaman awal 24/7: Late Capitalism and the Ends of Sleep yang masih saya biarkan terbuka menyala di layar ponsel saya. Sementara ide culas memaksa tubuh melampaui ritme biologisnya itu masih berpusing di kepala, saya mendongak dan menatap karya Vicky Saputra, Solstice—40 cm x 40 cm, Sun on Canvas. Di ruang yang sama, di jendela kaca, kata yang sama—yang juga jadi tajuk pameran tunggalnya di Sumsum Gallery—tertera dalam poster dengan jejak beberapa lubang terbakar yang menganga di sudutnya. Kehadiran lubang-lubang itu bukan kecelakaan teknis semata. Ia menandai cara kerja Vicky belakangan: pirografi surya.   

Sinar matahari menembus lup, terfokus hingga titik api muncul lantas dipakai untuk meninggalkan markah, di atas kanvas atau kertas, ialah cara lugu untuk menerangkan cara pirografi surya bekerja. Kesederhanaan itu lincir, karena mudah membuat kita tergelincir hanya membicarakan hal yang tampak di permukaan. Pendek kata, cara termudah sekaligus termalas untuk meringkus gerak kekaryaan Vicky belakangan adalah dengan semata-mata membicarakan ‘hasil goresan’ sinar matahari di atas kanvas, juga kertas. Bentuk-bentuk non-figuratif yang dihadirkannya menghadirkan ruang tatap yang mudah membuat pengunjung terpaku atau terpukau dalam pengalaman yang boleh jadi kemudian dilingkupi sekat-sekat lirisisme. Seolah-olah rumpun kekaryaan Vicky dalam Solstice melulu ialah goresan yang romantik sifatnya: bercorak unik, sublim, dan sulit terperikan. Perspektif ini ialah kabut pekat yang berpotensi menutupi satu elemen penting dalam praktik Vicky: waktu kerja di bawah sinar surya. 

Markah berbagai bentuk yang dihadirkan Vicky kali ini tak hanya indeks bagi pembiasan cahaya matahari yang melayur kanvas dan kertas, tetapi juga penanda bagi kerja—sekaligus yang memungkinkannya: waktu kerja. Solstice, alias titik balik matahari sendiri, memang tak banyak memberi pengaruh dalam kehidupan para pekerja yang hidup di seputaran area khatulistiwa. Namun, di belahan bumi lain, ia akan menandai saat siang mencapai panjangnya yang paling ekstrem—hari dengan siang yang paling panjang atau paling pendek dalam setahun. Dalam pengertian itu, solstice dapat dibaca sebagai alegori yang kuat bagi gestur kekaryaan Vicky di pameran tunggalnya yang pertama ini: kemungkinan dan ketetapan untuk bekerja dalam rentang waktu yang ia negosiasikan sendiri, sejauh yang bisa ia rengkuh dari sang surya.

Pada titik balik matahari musim panas, siang menjulur sejauh yang ia bisa. Solstice, dengan demikian, memuat pula kiasan atas kehidupan di bawah kapitalisme yang tak henti merekayasa kemungkinan untuk mencuri waktu dan membuat tubuh terus bekerja sedikit lebih lama. Sebuah motif yang kemudian ingin diperpanjang tanpa batas dengan berbagai macam cara. Di bawah logika kapitalisme 24/7, siang yang panjang selalu terasa seperti kesempatan: geser jam kerja sedikit, perpanjang shift beberapa jam, rekayasa ritme lewat waktu musim panas (daylight saving time), apa saja boleh, asal gerak produksi tetap berfungsi. Berjejalin dengan kenyataan ini, karya Vicky dalam Solstice memuat suatu motif yang berharga. Jika cahaya matahari jadi prakondisi kerja Vicky Saputra, maka modus kekaryaannya belakangan diam-diam ialah sejenis resistensi terhadap fleksibilitas palsu kerja era modern yang pada dasarnya adalah sebentuk pengaturan waktu.

Di bawah naungan studionya di Bangunjiwo, Yogyakarta, jam kerja Vicky bergerak di tengah sebuah keteraturan, pukul 09:00 hingga 12:00 WIB—tatkala matahari membuat orang malas tengadah. Sinar matahari dengan demikian adalah bagian inheren dari kekaryaan Vicky alih-alih semata alat produksi. Sesuatu yang dapat diantisipasi tapi tidak bisa sepenuhnya dijerat dalam kendali. Hari-hari mendung adalah jeda, sekaligus kemungkinan, sekaligus keteraturan, yang dihadirkan oleh alam bagi praktik kekaryaan Vicky. Dengan demikian, refraksi atau pembiasan dalam hal ini tak hanya bekerja di atas persoalan kaca pembesar yang membantu melayur kanvas tetapi juga menuntut pembiasaan Vicky atas ritme kerja. 

Pembiasaan ini pula yang menautkan alam tak hanya sebagai bentuk formal di atas kanvas tetapi menyelinap ke dalam praktik. Di tangan Vicky, produktivitas tak melulu soal apa yang dihasilkan kerja, yang lantas beralih jadi komoditas, tetapi perihal keselarasan ritme kerja dengan cuaca. Pirografi surya menopang praktik Vicky untuk tak hanya mengubah alam menjadi simbol dan metafora semata di atas kanvas. Alih-alih metafora, pirografi surya dalam kekaryaan Vicky mendorong sebentuk kritik yang lahir dari praktik di hadapan kekaryaan yang mengibarkan panji-panji ekologis selagi, di saat yang bersamaan, berupaya menundukkan alam. Kehadiran alam dalam praktik Vicky dengan begitu bukan sekadar elemen pemanis yang hadir untuk dikendalikan atas nama hasrat kekaryaan semata tetapi hadir sebagai sesuatu yang bercorak alamiah.

Di tengah corak alamiah itu, 12 karya Vicky—Zero Pole, Solstice, Stream, Collided, Shockwave, In Silence, The Moon Eater, Iteration, Cosmos Synthesis, Birth of Atom, Solar Flare, dan Stream No. 2—yang mengambil nama juga bentuk yang punya alusi terhadap apa yang natural mendapatkan pertaliannya. Berbekal sedikit pencatatan waktu, Solstice sendiri dapat menjadi indeks bagi sebuah daur iklim. Di saat yang bersamaan, ia tertaut pada kemungkinan jeda di antara keharusan terus bekerja. Lantaran Vicky justru menambatkan kerja pada sesuatu yang, saban sore, pasti pamit undur diri: matahari. Bila kemungkinan tersebut jadi kelumrahan, Solstice menyuguhkan praktik kerja artistik bagi Vicky Saputra yang juga menjadi titik henti bagi seni yang dipaksa semata jadi komoditas ekonomi. Karena pasar seni tak bisa mengakali kekuatan refraksi matahari. Sebuah tanda tanya pada hasrat kepemilikan yang menyusup lewat kemungkinan tuntutan produksi pada seniman sekehendak hati berbekal komisi.

Di bawah semesta 24/7, ambisi terjaga selama tujuh hari yang bersisian dengan rutinitas tiga jam kerja diurnal Vicky menghadirkan jarak yang menandai jenis dunia seperti apa yang sedang kita bangun. Jeda pun jam tidur yang panjang di hadapan dunia yang memuja produktivitas 24/7 adalah sebuah kesalahan pengaturan waktu. Sedangkan dalam Solstice jeda adalah arsip dari sekian upaya meminjam api dari matahari. Jeda adalah arsip indeksikal atas cuaca buruk, tangan gemetar, atau kerja di bawah cahaya mentari yang terlalu keras untuk ditanggung. Dengan demikian, Solstice dapat dibaca sebagai catatan tentang kepedihan yang menetap di atas tubuh, menempel macam jelaga di permukaan kanvas. Sebuah bentuk kepedihan karena ia menjadi markah bagi kisah hidup di tengah dunia yang menghendaki kita terus bekerja seolah mesin, di saat tubuh tak mungkin bergulir dengan cara yang serupa.

Barangkali, inilah titik balik lain yang tersembunyi dalam Solstice: bukan sekadar titik balik matahari, melainkan titik ketika kita mengakui bahwa hidup yang mengikuti ritme alam pun memeluk batas, menyimpan sebuah resistensi. Layaknya aforisme Leonard Cohen, “Selalu ada retakan, pada segalanya. Dan, begitulah cahaya masuk.” Di balik lubang-lubang terbakar dalam Solstice, ada gugusan pulau yang terbentuk di dinding dari cahaya lampu pamer yang merembes masuk. Dengan menggeser sedikit posisi kanvas, dan memperlakukannya sebagai gambar negatif, kita bisa melihat bahwa kanvas-kanvas Vicky dapat diposisikan layaknya fotografi. Potensi presentasi yang berbeda, dengan menggantung misalnya, lantas memainkan bayangan, adalah satu kemungkinan. Penekanan ini bukan persoalan estetika semata, melainkan upaya mempertebal unsur alamiah menampakkan diri beriringan dengan karya.

Hal yang terakhir disebut bukanlah celetukan tanpa dasar. Karena hal itu telah hadir dalam praktik kekaryaan Vicky. Minimnya penggunaan pelapis pada karya Vicky, ia hanya memakai gesso di belakang kanvas, terutama di muka kanvas, membuat kemungkinan karya Vicky lebih cepat menua. Bersama waktu karyanya akan berubah, begitu pula nilainya sebagai komoditas. Di tengah hasrat koleksi yang mengidamkan preservasi tanpa henti, kesementaraan dan perubahan adalah pertanyaan penting nan mendasar. Di titik ini pula, Solstice memuat permenungan pendek soal sirkulasi karya seni. Solstice barangkali tidak menawarkan jalan keluar dari sistem, tapi menunjukkan celah-celah kecil di sela-sela sistem. Celah-celah tempat tubuh masih bisa memilih kapan ia perlu menunduk, menengadah, maupun terhenti.

Di telepon genggam saya, 24/7: Late Capitalism and the Ends of Sleep masih menyisakan paragraf-paragraf yang perlu dibaca. Di halaman 17, Jonathan Crary menulis, “gagasan 24/7 secara perlahan mengikis perbedaan antara siang dan malam, antara terang dan gelap, serta antara aktivitas dan istirahat.” Di halaman-halaman lain Crary mencatat bagaimana kapitalisme terus-menerus berusaha menghabisi malam, mengirimkan notifikasi yang terus datang dalam mode tidur telepon genggam kita, pun memoles waktu menjadi kesempatan untuk produksi atau konsumsi yang tiada putus. Di hadapan semua itu, praktik kekaryaan Vicky, dengan segala keterbatasannya pada intensitas cahaya matahari juga kondisi cuaca, justru menegaskan keberadaan batas tersebut. Ia terasa pula sebagai bentuk pengakuan jujur, bahwa tubuh tidak lahir untuk selalu siap 24/7. Bahwa tubuh ideal ialah tubuh yang bugar, bukan tubuh yang semata patuh terhadap jadwal. Pengakuan itu sendiri, di masa ketika semua hal dipromosikan atas dasar fleksibilitas, adalah semacam pembelotan kecil terhadap homogenitas waktu kapitalisme. 

Tentu saja, pembelotan ini kemudian bergantung pada sejauh mana seni bersepadan dengan komoditas. Alias kekaryaan yang terjerat melulu sebagai alat tukar seniman demi bertahan hidup. Selagi modus ekonomi ini terus menerus mengikat mati, kekaryaan hadir karena tuntutan alih-alih keleluasaan. Tanpa keleluasaan, pada akhirnya upaya bertahan hidup selalu menuntut kita untuk terjaga lebih lama, untuk bekerja, atau menyiapkan diri untuk bekerja. Karena dalam dunia yang beroperasi tanpa jeda, kemampuan untuk tetap terjaga menjadi ukuran paling sederhana.

Dalam logika semacam ini, panjang hari tidak lagi sekadar fenomena astronomis, melainkan ukuran potensial dari waktu kerja itu sendiri. Alhasil malam-malam Vicky bisa saja terus dibayangi oleh kerja reproduktif memikirkan kerja produksi esok hari alih-alih bersantai bermain monopoli. Jika kerja ditentukan oleh lamanya kita dapat terjaga, maka titik balik matahari—solstice—adalah pengingat atas hari-hari terpedih bagi manusia yang hidupnya secara sosial masih terus termediasi oleh kerja.


Rifki Akbar Pratama

Rifki Akbar Pratama terlibat di medan kerja kesenian lewat penelitian, fasilitasi, moderasi, dan penulisan. Belakangan ini menulis soal sejarah kekaryaan, atensi ekonomi, kondisi kerja, juga sistem kerja kesenian. Bersama Ufuk, ia memanfaatkan penerbitan non-konvensional sebagai modus redistribusi di Jakarta Biennale 2021. Ia menaruh perhatian lebih pada persilangan sejarah dan psikologi, terutama politik afek pun sejarah perasaan golongan kiri pasca 1965. Bersama KUNCI Study Forum and Collective, ia menyusuri pedagogi kritis, praktik artistik, serta produksi pengetahuan.



URAKAN adalah majalah untuk seluruh pelaku ekosistem seni. Kami menyajikan refleksi, ulasan, dan berita dengan arahan filosofi editorial yang otentik.

Ikuti kami untuk mendapatkan informasi setiap kali kami menerbitkan artikel terbaru. Untuk ikut berkontribusi, klik di sini.

← Back

Thank you for your response. ✨

 

Loading Comments...
 

    • Subscribe Subscribed
      • URAKAN
      • Already have a WordPress.com account? Log in now.
      • URAKAN
      • Subscribe Subscribed
      • Sign up
      • Log in
      • Copy shortlink
      • Report this content
      • View post in Reader
      • Manage subscriptions
      • Collapse this bar