Rifki Akbar Pratama· 12.12.25 · Ulasan
English
Studio 22nya Jakarta
29 November – 13 Desember 2025
If you want me to pay my taxes/You’d better come over with a crucifix/You’re gonna have to nail me down
Geese, Taxes—Trek nomor 10 dalam Getting Killed
Entah sebelum atau sesudah—dua-duanya cuma preposisi waktu. Terkaan kata kerjanya ialah menangis. Sebuah dugaan, yang bisa dikenakan ke potret diri, yang ditempel dengan selotip pada lukisan cat air dan akrilik di atas kertas, yang menunjukkan seseorang menunduk, menekan pelipis kuat-kuat, keningnya berkerut, jemarinya menutupi mata. Di belakang foto profil itu, ke dalam titik hilang, figur yang serupa menggenggam kepalanya tatapannya kosong. Di bawah foto itu bahunya menyambung ke tubuh berbalut pakaian formal, begitu tak proporsional dengan kepala kecil dalam foto, berdasi, dengan tangan menangkup satu di atas yang lain. Figur itu dapat dilihat sebagai tiga orang yang berbeda, tumpang tindih, juga bisa terlihat sebagai orang yang sama, semacam homunculus. Yang kecil dalam yang besar, kekalutan kecil di tengah tidak keruan yang besar. Itulah La Nada (How Do I Cope) karya Kareem Soenharjo yang juga jadi poster bagi pameran tunggalnya Taxing.
Situasi yang berat mendera adalah yang bisa kita rasakan dari La Nada tetapi tidak begitu dengan emosinya. Begitu pula dengan karya lain dalam Taxing, perasaan tersebar ke sepenjuru ruangan, tetapi sekaligus tak muncul secara tegas. Taxing pameran tunggal perdana Kareem Soenharjo tampaknya adalah perwujudan dari katalog perasaan yang tertangguhkan. Semua ini dapat kita lihat dari bagaimana Kareem bekerja bersama mata. Bila di ‘La Nada’ kehadiran tatapan mata hanya selintas dan hadir sebagai latar belakang, di karya yang lain mata menatap di mana-mana. Mata terbelalak dan nanar di Tub Triptych, mata setengah berkaca-kaca di Waiting In The Hospital, The Hospital Is Waiting (Triptych), mata di tengah kegelapan di Self Potrait dan Angeeta (Passenger Mouth), mata dengan tatapan kosong di Self Portrait (House), mata yang mengawasi di Yado 1 Bathtub, Untitled (Agoraphobic Self Portrait), Surface Tension, Untitled I, juga Untitled III. Jika ada yang bilang mata adalah jendela bagi jiwa, dalam Taxing jendela yang kita temui hanya setengah terbuka atau terganjal engselnya.

Mata jadi leitmotif dalam Taxing. Ia bekerja lewat kehadiran dan ketidakhadirannya sekaligus. Tatapan dalam Taxing seolah berubah jadi penyalahgunaan ukuran penilaian terhadap diri. Di mana kehadiran diri begitu ditentukan oleh bagaimana tatapan sosial menghendaki diri, dan di saat yang sama diri perlahan mengiyakan—membuat interpelasi berada di ujung tatapan. Persoalan muncul ketika diri hadir dan dianggap berharga dalam kondisi ‘jika dan hanya jika’ yang ditentukan oleh tatapan orang lain. Saat ‘mata yang mengawasi’ hadir, tubuh mematung. Tubuh adalah ruang bagi agensi diri yang tertangguhkan. Saat mata kita statis, tubuh tak bergerak. Orang-orang bilang melangut. Di sisi yang lain, ia bekerja bersama sebuah ruminasi tak henti tentang apa yang seharusnya dilakukan. Tubuh terhenti dan kesadaran terperangkap di dalam. Di saat yang sama kita menemukan motif lain dalam Taxing: soal cara-cara tubuh mendiami ruang.
Ruang keseharian dan bagaimana tubuh-tubuh menempati ruang adalah motif lain yang muncul dalam Taxing. Mata dalam Taxing mengawasi bukan hanya karena gelagatnya tapi juga karena di mana ia ditempatkan. Mata-mata melekat di bidang tembok, mengintip di antara celah, di tengah kegelapan di dalam rongga mulut, di tengah bayang-bayang hingga menyembul dari bidang lantai. Cara hadir mata itu mengiringi tubuh-tubuh yang geraknya lantas mengalami penangguhan sekaligus ketegangan. Kalau pun tubuh dimungkinkan bergerak, ia muncul dalam gestur yang janggal. Lihat saja figur limbung dalam Untitled I yang jadi tontonan ataupun figur yang terjungkal-tertelungkup yang hadir dalam Untitled II.

Tubuh-tubuh juga hadir dalam kondisi yang juga mengisyaratkan tajamnya tatapan. Sorot mata seolah begitu tajam, tatapan seolah memuntungkan. Tubuh-tubuh hadir tak utuh, hanya berupa kaki di Surface Tension, tanpa kaki di Untitled (Agoraphobic Self Portrait), tanpa kepala dan genggaman tangan di Untitled III. Lain halnya saat sorot mata itu tak hadir. Saat tatapan mata tak hadir agensi seolah muncul kembali. Sampai derajat tertentu tubuh punya gestur: menopang di Untitled (Jakarta Selatan), bergegas dalam Business Expansion, menangkupkan wajah dalam Self Portrait (Gardener With Water Kettle and Scissor) juga La Nada (How Do I Cope), beringsut dalam Untitled (In The Thick Of It), atau mengintip dalam Nuclear Evening.
Lepas dari bagaimana figur hadir/dihadirkan Taxing membawa berkas perasaan yang begitu pekat. Taxing seolah menunjukkan bahwa setiap orang punya badai internalnya masing-masing. Sesuatu yang selalu berada di batas ambang, hampir teraih oleh orang lain tapi tak kunjung berhasil. Ini begitu terasa tak hanya hanya dalam gestur dan tatapan tapi juga bagaimana Kareem menghadirkan suasana luar dan dalam. Di dalam ruang, situasi terasa mencekam dan pekat. Sedang di luar, seperti dalam Pond ragam warna lebih banyak hadir. Bahkan di dalam ruang, hidup jadi terasa paradoksal. Lihat saja bagaimana bayang-bayang yang mengawasi hadir dalam warna yang lebih terang—yang dihadirkan melalui negative space—dibandingkan diri dalam tubuh yang kelam disinari kegelapan dalam Untitled (Agoraphobic Self Portrait).

Figur yang ambivalen ini bisa dibilang adalah salah satu indeks penting dalam Taxing sebagai sebuah katalog perasaan yang tertangguhkan. Ketaksaan atau ketakmudahan perasaan figur-figur ini untuk diraih boleh jadi membuat Taxing dibaca begitu personal (dan rawan terhenti dilokalisir dalam ranah personal). Meskipun begitu, alih-alih terisolir dalam percakapan soal diri ia dapat dibaca dalam hubungannya dengan rantai sosial yang lebih panjang. Kepasifan macam itu, meminjam cara baca Sianne Ngai dalam Ugly Feelings (2005), dapat dilihat sebagai ketaksaan yang politis. Ia adalah sebentuk “bentuk perlawanan pasif nan menggelisahkan”. Di tengah gempuran dunia untuk menjadi fungsional—terus bekerja atau dipekerjakan—menjadi disfungsional dapat berubah jadi sebuah perlawan yang bersifat senyap.
Cara baca ini dengan demikian dapat menggeser sedikit domain literal Taxing dari wilayah emosional ke ukuran sosial. Di penghujung tahun yang begitu berat bagi pekerja dan rencana kenaikan pajak di awal tahun Taxing mendapatkan alusi yang lain. Tubuh-tubuh yang mencoba merawat dirinya sendiri dan berupaya cukup diri terus menerus didera norma produktivitas yang mendorong ketidakcukupan hingga tak hingga. Perawatan diri dapat berubah jadi sekadar perantara, vanishing mediator, eksipien bagi reproduksi fungsionalitas individu (terus bekerja atau dipekerjakan). Layaknya bercukur yang jadi kegiatan perawatan diri bisa jadi sumber luka itu sendiri dalam Tub Triptych. Layaknya kusutnya gerak pelarian dalam Business Expansion yang membuat tubuh tampak terjebak dalam perang parit di tengah hamparan tanah tak bertuan yang hadir seiring perkembangan modernitas.

Di luar jebakan cara baca yang rentan mengisolir yang jadi buntut pilihan karya yang dipamerkan, Taxing sendiri berhasil memampatkan 22 karya (dari 26 karya dalam katalog) Kareem ke dalam ruang yang membiaskan perasaan yang cukup intens. Begitu pula jukstaposisi yang hadir karena Self Portrait (Gardener With Water Kettle and Scissor)—yang ditopang pedestal kepatungan (sculptural) beranting yang menambahkan elemen pertumbuhan—yang diposisikan membelakangi Self Portrait adalah pilihan yang segar. Jika William Kentridge menandai proses diskursif di dalam kepalanya dengan menghadirkan dua versi dirinya dalam Self-Portrait as a Coffee Pot, jukstaposisi tadi membuka ruang interpretasi atas dua modus mengada figur-figur dalam Taxing: kalut atau ketenangan yang tertangguhkan.
Sampai derajat tertentu detail semacam itu juga menandai Taxing sebagai pameran perdana Kareem: yang masih terasa mengejar dan berupaya membekukan bentuk juga gestur. Ialah sebuah pertanyaan bagi trayektori kekaryaan Kareem berikutnya soal bagaimana keahlian yang dicapai menemukan tempat yang menopang pemaknaan atau kekhasan alih-alih sekedar fiksasi pada bentuk. Macam kemungkinan cara lain craquelure dihadirkan, di luar modus yang dipakai dalam Icarus, yang hadir untuk menghadirkan bentuk badai. Maupun potensi pembeda lain dari kehadiran figur riil Kareem dalam bentuk foto yang ditempel di atas lukisan ketika berhadapan dengan seni representasional yang bisa jadi dapat meraih pengalaman yang serupa.

Lepas dari sisi teknis itu, Taxing berhasil membawa pengalaman-pengalaman individu bertarung melawan bayangannya sendiri (yang tak lepas pula dari struktur sosial tertentu). Sebuah pengalaman tergenang di tengah perasaan merasa tidak berguna. Pengalaman yang selalu diikuti pekerjaan rumah untuk perlahan menggesernya ke perspektif, bahwa ketidakbergunaan bagi ruang reproduksi kapitalisme ialah kegunaan bagi kecukupan reproduksi diri. Dengan kata lain, upaya merengkuh politik perawatan. Dan ia tidak pernah cukup diri (dalam dirinya sendiri) karena perlu terhubung dengan yang lain. Seperti yang diam-diam tercitra dalam Pond maupun sekumpulan genangan dalam Taxing. Bahwa, kita barangkali—selagi lebih dari separuh badan kita menampung air—tak ubahnya satu dari sekian badan air. Dan layaknya genangan kita tak bisa tergenang terlampau lama. Perubahan adalah niscaya. Bahwa, seperti yang dikesankan Sianne Ngai, renungan atas perasaan yang tertangguhkan semacam ini dapat dipakai “sebagai salah satu strategi yang disengaja, guna menyongsong bentuk-bentuk aktivisme politik nir-kekerasan yang kelak akan muncul.”

Rifki Akbar Pratama terlibat di medan kerja kesenian lewat penelitian, fasilitasi, moderasi, dan penulisan. Belakangan ini menulis soal sejarah kekaryaan, atensi ekonomi, kondisi kerja, juga sistem kerja kesenian. Bersama Ufuk, ia memanfaatkan penerbitan non-konvensional sebagai modus redistribusi di Jakarta Biennale 2021. Ia menaruh perhatian lebih pada persilangan sejarah dan psikologi, terutama politik afek pun sejarah perasaan golongan kiri pasca 1965. Bersama KUNCI Study Forum and Collective, ia menyusuri pedagogi kritis, praktik artistik, serta produksi pengetahuan.
