Selalu ada kejutan pada Selasa malam di Wijilan. Sentra Gudeg di Yogyakarta itu memberi keramaian yang menyenangkan dengan musik yang terus berdentum. Di sana kita bisa bertemu teman-teman yang menyenangkan, musik dari sound system yang mengundang untuk berpesta, air-air kedamaian yang dibagi berputar, hingga celotehan-celotehan di saat nongkrong. Tuesday Louder adalah pilihan yang menarik ketika Selasa Malam-mu sedang sepi dan tidak tahu harus ke mana.
Saya berkunjung ke Tuesday Louder volume 133 pada Selasa malam, 8 September 2026. Acara tersebut bertepatan dengan gelaran Gaung Gumaung hari kedua. Malam itu Jalan Wijilan menjadi sangat ramai tentu saja. Pertunjukan musik malam itu juga ditambah dengan dekorasi panggung yang unik dengan cahaya sorot visual yang menambah asoy suasana.
Penampilan musik malam itu menjadi cukup meriah dengan beberapa aktivasi yang juga menarik untuk diikuti. Para penampil musik malam itu adalah Donz x Ladies Bronx, Kisa b2b Ayash, Megatruh Soundsystem, Verisaerisa x Blossom Wave, dan TamaT dari Surabaya, juga Defektro dari Jepang. Untuk dekorasi panggung malam itu dihias oleh Kolektif Wayang Polah. Tata cahaya visual digarap oleh Husain Alfarizi a.k.a SD/MI dan Klingklengklong. Di luar area musik, juga diadakan grafiti oleh Reas, sketsa wajah oleh Semester27, live sablon oleh Krack Studio. Perhelatan itu juga merupakan peluncuran dari zine arsip poster Tuesday Louder oleh Flowercans Press.

Saya datang cukup telat malam itu. Saya datang ketika Kisa b2b Ayash sudah mengakuisisi panggung di sekitaran jam setengah 10 malam. Meski acara tersebut sudah hampir rampung, namun masih terasa bagaimana para pecinta pesta Yogyakarta malam itu masih tampak bertenaga. Rembulan sudah naik hingga ke ubun-ubun tapi setiap hadirin tampak masih ingin menghabiskan malam di Wijilan.
Tuesday Louder adalah kolektif/platform di Yogyakarta yang rutin mengadakan acara gigs mingguan pada Selasa malam untuk musik elektronik, eksperimental, hip-hop, hingga performing art lainnya di Kampung Wijilan. Kolektif ini sering jadi ruang bernapas buat berbagai proyek musik, eksperimen bunyi, pemutaran film, hingga bermacam aktivasi seni kontemporer lainnya. Kolektif ini lahir pada akhir tahun 2023 dan terus konsisten membuat gigs hingga sekarang.
Dari musisi lokal hingga mancanegara semua pernah mengisi perhelatan musik yang digagas secara mandiri ini. Para pegiat Tuesday Louder tidak pernah lelah membuat gigs setiap Selasa di Wijilan. Entah sepi atau ramai, Tuesday Louder selalu mencoba istiqomah dilakukan meski banyak kendala kerap menghampiri. Gigs sederhana meski dengan sound system yang tidak sederhana ini menjadi ajang musisi lokal untuk melakukan uji coba hingga musisi luar negeri yang sedang melaksanakan tur.

Saya mengobrol dengan Septio JK a.k.a Tio Jukik dan Nindito a.k.a Arjo atau Dito perihal awal berdirinya Tuesday Louder. Obrolan itu terjadi menjelang dini hari di Wijilan, selepas Tuesday Louder volume 122. Patut diketahui bahwa Jukik merupakan warga asli Kampung Wijilan dan juga gitaris dari band asal Wijilan yaitu Sepeda Hias. Sedangkan Dito adalah pemuda serba bisa yang kerap hadir di acara musik elektronik di Yogyakarta.
Sebuah alasan kenapa wawancara dilakukan menjelang jam 2 pagi tentu saja dikarenakan menunggu acara itu benar-benar kukut. Selaku penanggung jawab acara, Jukik harus memastikan bahwa semua penonton sudah pulang tanpa ada yang tertinggal. Sebagai acara yang dilakukan secara gotong royong, setiap yang hadir pun juga turut membantu membereskan segala hal. Seperti menyapu jalan, membersihkan sampah, mengangkut sound, hingga memulangkan penonton yang tidak kuat akibat teler. Semua dilakukan agar acara ini tetap menjaga dan merawat space ini.
Kami pun mengobrol di Nasi Egg yang terletak selemparan batu dari lokasi Tuesday Louder. Kedai Nasi Egg sendiri yang punya adalah Yusac Dika a.k.a Klawu. Dalam operasional Nasi Egg, Klawu juga mempunyai rewang yang merupakan member Tuesday Louder juga. Sambil makan, merokok, dan menenggak minuman sisa, kami berbincang perihal bagaimana movement ini bermula dan harapan kedepannya. Obrolan kami pun luwes ngalor ngidul layaknya obrolan lelaki yang belum tidur hingga menjelang subuh.

Awal mula hadirnya pergerakan ini rupanya tidak berangkat dari cetak biru yang megah. “Awalnya ya lucu-lucuan saja,” ucap Jukik membuka obrolan. Ide Tuesday Louder bermula dari salah seorang rekanan yaitu DJ Service a.k.a Kebo. Kebo ini seorang DJ yang tinggal di Köln, Jerman, tapi merupakan warga asli Yogyakarta. Saat itu Kebo ingin membuat mini gigs DJ tapi tidak punya rekanan yang bisa merealisasikan keinginannya karena ia sudah lama tidak pulang ke Indonesia. Sambatan ke Jukik itu pun akhirnya gayung bersambut dengan membuat gigs di pelataran bekas KUA dan angkringan yang hari itu sedang tutup.
“Di situ dulu (lokasi Tuesday Louder) ada angkringan yang sekarang sudah tutup. Angkringan Abit, itu masih satu geng sama Klawu dkk. Angkringan itu kebetulan tutupnya Hari Selasa. Waktu itu langsung dikeluarkan speaker lalu kita bikin dan ngundang teman-teman buat datang,” ucap Jukik.



Pemilihan hari Selasa pun sejatinya murni karena alasan logistik yang banal. “Ya karena angkringan itu prei-nya pas hari Selasa,” lanjutnya. Angkringan Abit yang biasa memenuhi sudut jalan sedang libur setiap Selasa, meninggalkan space kosong dan pasokan listrik yang menganggur. Kesempatan itu dimanfaatkan para pemuda mbeling1 ini dengan membuat gigs ala kadarnya yang penting jadi.
Semangat hari pertama yang lumayan bergairah itu pun membuat mereka menjadi kepikiran untuk membuat seri keduanya. Jukik mulai mengundang banyak teman-teman dari berbagai tongkrongan se-Yogyakarta untuk turut hadir. Acara tersebut yang dibuat secara organik itu pun menjadi semakin ramai. Dari awal mulanya tongkrongan teman-teman hingga akhirnya bisa mengundang orang-orang dari luar.
Nama “Tuesday Louder” saat itu pun lahir secara organik juga. Mereka awalnya ingin menyebut acara tersebut dengan nama “Turn It Up Fucking Loud”, karena sudah bikin spanduk dengan tulisan tersebut. Namun karena username akun Instagram mereka Tuesday Louder, nama itulah yang akhirnya dipakai hingga sekarang.
“Waktu itu namanya yang usul itu Klawu, ‘Turn It Up Fucking Loud’. Kalau gak salah yah, karena kita waktu itu pokoknya jalan aja. Nama Tuesday Louder itu juga gak salah juga karena ada yang bikin visual di proyektor tulisannya Tuesday Louder. Nah itu, jadi dipakai. Kalau nama Tuesday Louder itu yang ngasih nama Gunsky,” ucap Dito merespons.
Di masa-masa awal, peralatan teknis diorganisasi secara swadaya dan mengandalkan apa pun yang ada. Segala kesempatan yang bisa dimanfaatkan selalu diupayakan untuk diwujudkan. Dari menggunakan speaker yang dipinjam dari satu orang ganti ke orang lain hingga menggunakan ampli gitar rakitan seadanya. Untuk masalah listrik, Jukik mengungkapkan mereka mengambil listrik dari Pos Kamling. Mereka cuma harus membayar Rp 20 ribu ke rumah di samping Cakruk tersebut sebagai bentuk mahar pinjam listrik.
Pada awal-awal Tuesday Louder mereka beruntung didukung oleh para dermawan skena yang suportif. Segala kebutuhan yang mereka butuhkan selalu mendapat bantuan, baik secara materi maupun alat. Tuesday Louder pun bisa dibilang sebagai pewaris musik elektronik dari generasi sebelumnya. Patut diingat, Wijilan juga dikenal sebagai tempat lahir skena hip-hop pertama di Yogyakarta.

Menghadirkan musik elektronik dengan suara keras di tengah perkampungan padat seperti Wijilan tentu bukan tanpa risiko sosial. Gesekan dengan warga setempat dan pengurus RT/RW menjadi dinamika yang tak terhindarkan. Pertunjukan tersebut sempat dihentikan dan dievaluasi dalam rapat-rapat warga maupun grup percakapan tempat ibadah.
“Jelas, jelas ada pro-kontra. Bahkan terus dirapatkan di Forum RW. Bahkan sampai diomongin di grup masjid,” kata Jukik. Kultur luar yang dibawa penonton terkadang memicu komplain dari warga sekitar. Penonton random yang tidak bisa diprediksi tentu memicu beda pendapat antar warga. “Soale iki ana wong ciuman lho. Ning ngarepan gerbang kae, ana bule-bule. Dadi kayak imej-e wis terlalu vulgar, terlalu bebas. Mbah-mbah ngono bahasane ‘tidak senonoh’.”2
Namun, proses negosiasi sosial yang intensif dan kesadaran untuk merawat ruang bersama membuat Tuesday Louder perlahan diterima kembali. Setelah sempat vakum beberapa saat, warga justru merasa ada yang hilang dari atmosfer ruang mereka. “Waktu sempat vakum itu banyak yang nanyain, Iki kenopo yo? Akhirnya mereka bisa menerima. Kaya kangen wae po ya, pengen rame-ramean,”3 tambah Jukik.
Para pedagang gudeg di sekitaran Wijilan, disampaikan Jukik, juga merasa tidak ada yang terganggu dengan adanya keramaian ini. Hal tersebut dikarenakan acara ini toh dilaksanakan hanya pada satu hari dan juga malam. Para pedagang gudeg bahkan sempat beberapa kali mendukung acara ini dengan memberikan beberapa kotak makanan yang nantinya dibagikan untuk pengisi acara. “Wong dodolan gudeg iki yo butuh hiburan,”4 candanya.
Meski berdiri di kawasan Wijilan yang secara historis erat dengan skena hip-hop dan kebudayaan street art generasi sebelumnya seperti Hellhouse, Tuesday Louder tumbuh dengan identitasnya sendiri. Wilayah ini bertransformasi menjadi laboratorium musik yang terbuka bagi siapa saja. “Kayak jadi panggung uji coba buat mereka yang ingin tampil. Bahkan bocah-bocah rapper-rapper bocah lor ngono kae, iki dijajal lirik-e, dicoba. Kadang-kadang ada DJ terus mereka freestyle nggo ngetes mental,”5 ucap Dito.

Seiring berjalannya waktu, mereka menyadari mereka tidak bisa terus berharap kepada dermawan skena. Mereka pun mencoba mencari pendapatan sendiri lewat berjualan merchandise. Tuesday Louder pun akhirnya merilis beberapa artikel kaos yang dijual untuk menghidupi gerakan ini. Tidak ada yang mengambil untung dari pendapatan dari kaos ini. Semua murni dikembalikan untuk perhelatan acara ke depannya. Meski begitu acara ini tidak menutup kemungkinan untuk berkolaborasi. Seperti yang pernah dilakukan oleh Gaung dan juga Jogja Noise Bombing.
Obrolan pun menemukan pamungkasnya dengan harapan Jukik yang ingin mengadakan pertunjukan band di Tuesday Louder. Hanya saja, mereka masih berpikir bagaimana teknis pertunjukan tersebut. “Hadroh itu kan sudah pernah main, YKHC [Yogyakarta Hadroh Clan] itu. Selanjutnya sih pengennya ada band-bandan. Tapi kita pikir teknisnya bagaimana soalnya itu kan pasti pakai drum. Pokoknya kita mengalir aja dulu,” ucapnya sambil mematikan rokok.
Melihat keramaian Tuesday Louder saat ini, Jukik merasa bersyukur karena banyak mendapat dukungan dari warga Wijilan, para seniman, hingga pegiat seni di Yogyakarta. Dari awalnya sound dan turntable masih pinjam sana sini, hingga saat ini bisa punya sendiri. Saat ini anggota Tuesday Louder ada 8 orang. Tiga orang member asal Wijilan adalah Jukik, Antopang, dan Abit. Sedang yang lainnya adalah Gunsky, Aria, Eris, Dito, dan Ajox. “Mereka itu para penjaga api Tuesday Louder. Cah-cah non warga lokal yang saat ini mungkin sudah bisa disebut kategori warga Wijilan karena sering nongkrong di sini. Terima kasih atas kerja-kerja dan aksi-aksi canggih mereka. Juga terima kasih kepada semua yang pernah terlibat dan mendukung Tuesday Louder,” pungkasnya menutup malam.
Di balik kebisingan frekuensi rendah yang menggetarkan kaca-kaca jendela kampung tiap Selasa malam, Tuesday Louder sejatinya adalah perayaan atas daya tahan dan kerelaan merawat ruang. Ia tak sekadar menjadi tempat meluapkan penat di pertengahan minggu atau sebatas panggung eksperimentasi bunyi bagi para pemusik independen. Di sudut jalan yang bertahun-tahun diidentikkan dengan manisnya kuah gudeg dan nostalgia pariwisata itu, anak-anak muda ini berhasil menegaskan kembali fungsi ruang publik: tempat di mana negosiasi sosial, kerja kolektif, dan kebebasan berekspresi bisa hidup berdampingan secara organik.

Menjelang tengah malam, gelaran Gaung Gumaung x Tuesday Louder itu perlahan menunjukkan batas waktu terakhirnya. DJ Eri Rukmana a.k.a Tamat sudah menuntaskan pertunjukannya yang disambut tepuk tangan meriah dari seluruh penonton. Acara tersebut telah bubar tapi obrolan tongkrongan masih ramai di sepanjang Jalan Wijilan. Banyak yang memutuskan untuk melanjutkan pesta malam itu ke Substore dan ada pula yang memilih untuk pulang ke tempatnya masing-masing.
Selepas tengah malam itu, di luar Jalan Wijilan kembali sunyi, menyisakan sisa-sisa jejak pesta semalam yang telah disapu bersih. Kebisingan itu mungkin telah usai untuk minggu ini, tetapi napas dari pergerakan mandiri ini dipastikan bakal terus berdenyut. Selama masih ada speaker yang bisa dicolokkan dan jalanan yang bisa dihuni bersama, Selasa malam di Wijilan tidak akan pernah benar-benar sepi.
Pergerakan mereka mungkin memang jauh dari kata sempurna. Stage yang mereka tempati pun terbilang mungil, hanya sanggup menampung puluhan orang yang berdesakan. Parkiran pun terkadang tampak berantakan hingga di tepi jalan. Harap dimaklumi jika di kemudian hari mereka sesekali absen dan tidak konsisten hadir setiap minggu—entah karena kejenuhan yang melanda atau ketiadaan penampil yang siap mengisi slot. Namun, jauh melampaui segala keterbatasan dan jeda itu, Tuesday Louder telah membuktikan kemampuannya mewarnai jagad musik Yogyakarta, sebuah lanskap kebudayaan yang selalu berhasil melahirkan ruang-ruang baru secara ajaib.
Catatan
- Mbeling: Bahasa Jawa; sulit diatur, nakal, enggan mematuhi aturan. ↩︎
- “Soalnya ada orang ciuman lho. Di depan gerbang itu, ada orang asing. Jadi image-nya sudah terlalu vulgar, terlalu bebas. Orang tua memanggil hal itu ‘tidak senonoh.’ ↩︎
- “Ini kenapa ya?” / “Mungkin karena kangen saja, ingin ramai-ramaian.” ↩︎
- “Orang jualan gudeg juga butuh hiburan.” ↩︎
- bocah lor ngono kae – “anak utara sana” / freestyle nggo ngetes mental – “freestyle untuk tes keberanian.” ↩︎

Penulis dan jurnalis lepas yang menyukai banyak hal. Penulis asal Lamongan ini sekarang sedang tinggal di Yogyakarta.
