Artmeru, Malang
26 Juni – 5 September 2026
Dalam debut pameran galeri Artmeru yang bertempat di jalan Semeru, kota Malang, terhitung ada 22 seniman yang ikut serta dalam pameran berjudul Mukadimah ini. Sebetulnya tak perlu melebih-lebihkan arti judul pameran ini: istilah Mukadimah yang sering terucap di mimbar imam masjid di sela-sela sebelum khotbah, ataupun di beberapa tulisan sebelum masuk pada isi; simpelnya adalah sebuah intro atau pengantar pintu masuk yang menandai titik mula menuju hal-hal berkelanjutan. Mukadimah ini secara lantang dikonstruksikan oleh Helmi Zuhdi selaku kurator, membungkusnya dalam teks kuratorialnya; menitik beratkan pada perubahan realitas sosial dan medan estetikanya. Merupakan penegasan kembali dari Sanento Yuliman1 mengenai perubahan zaman dalam pusaran ekosistem seni di Indonesia: observasi pelaku kesenian (seniman) atas perubahan-perubahan realitas sosial di sekitarnya dan respon kepada sikap-artistiknya.

Deretan ruko peninggalan era kolonial, berarsitekturkan art deco dan galeri Artmeru adalah salah satunya — bergabung dengan Toko Meru yang bercat biru. Pintu masuknya langsung berhadapan dengan himpitan dinding dan belasan anak tangga yang cukup tinggi — cukup untuk kaki-kaki orang Belanda, tapi mungkin tidak untuk pribumi seperti kita. Dan di puncak tangga kita akan disaksikan Wall Text kuratorial Mukadimah beserta ruangan masuk di sehelai kain, yang dipenuhi dengan karya-karya cukup besar bersamaan panel-panel karya. Galeri ini sejujurnya terbilang kecil untuk model sebuah galeri, karena juga terbagi dengan kafe dan Toko Meru di bawahnya. Namun terlepas dari masalah ruangan, cukup tertegun melihat Malang yang berbeda dengan identiknya, yaitu realis, bukan berarti serta merta menyingkirkan gaya itu, tetapi loncatan lintas generasi yang lebih muda memberikan angin segar terhadap keanekaragaman seni rupa di Malang. Wajah pertama yang saya lihat adalah karya berjudul Chair Is Important (2025-2026) milik Antoe Budiono yang cukup mengidentikkan realis fotografis. Sebetulnya bagi seniman-seniman di Malang bahkan Batu sekalipun, teknis ini sangatlah umum digunakan. Menciptakan ilusi hyperrealism yang kejeliannya ditangkap dengan resolusi tinggi dari kamera. Walaupun realis fotografis ini menjadi acuan, Antoe Budiono tidak berhenti di sana — layaknya seniman, dan seharusnya begitu. Pemikiran imajinatifnya menangkap gambaran dirinya sendiri sebagai sosok Ayah bagi anaknya, menghadapkannya dengan realita sosial generasi sekarang: budaya populer seperti Superman, figuratif kartun ayam, sepatu sneaker, hingga coretan-coretan ala grafiti di dinding — seolah menuangkan beragam bentuk imajinatif yang menarik garis dari masa lalu menuju masa kini. Ini terlihat pada karya di sisi kiri, di mana sketsa pewayangan2 berangsur tercoret menjadi fragmen desain modern hingga futuristik.


Selanjutnya, layout karya menjadi menarik melihat karya lukis Bagus Priyo dengan Pembukaan Kedai Kopi Rakyat(2026), yang menghantam realis Antoe dengan anekdot, sederhana, timpang. Tapi segar. Narasi sederhana dari pria saleh yang berdoa dan berlari menghindar anjing, simbolik dari kenajisan bagi agama islam, yang di sisi lain anjing adalah hewan loyal dan baik. Kejadian yang dituliskan seperti pada judul, pembukaan kedai kopi rakyat, ditangkap spontan oleh Bagus. Bukan cerita muluk-muluk, karya haruslah memiliki riset ataupun sebuah metodologi di dalamnya, tetapi terkadang hal remeh temeh di keseharian kita lebih dekat ketimbang buku seabrek di bangku kuliah. Memang, dari karya ini setidaknya kita bisa memahami masyarakat kita — entah semaju apapun zaman tetap anjing itu haram air liurnya!3
Dua cerita, artistik dan keseriusan yang berbeda dari entitas seniman-seniman ini, berhasil diejawantahkan dalam laboratorium otak yang berbeda. Menunjukkan pluralitas kesenian yang lebih luas pada jangkauan generasi ke generasi, menangkap realita sosialnya dengan cara dan kemampuannya sendiri, yang sebenarnya kita tak hanya melihat tangkapan realitas sosialnya saja tetapi juga bentuk keberagaman dari medan artistik seni rupa di Malang. Ini juga ditunjukkan pada karya lain di ruangan ini dan ruang transisi berikutnya; ruang yang dihimpit oleh sempitnya jarak langkah namun luas dengan jarak keberagaman artistik seperti: lukisan kolase, abstrak, drawing, seni tekstil 2 dimensi, patung, instalasi, sound art, dan lukisan ekspresif primitivisme.

Ruang berikutnya membicarakan dinding seluas empat meter yang berhasil dikuasai oleh Gatot Pujiarto dengan tekstilnya pada Peristiwa di Malam Pesta (2023). Bentangan kain-kain perca 2m x 4m dengan beragam warna dan dominasinya pada warna-warna gelap, menghantui kita di jarak jauh sesaat yang tersamarkan membentuk objek-objek manusia. Namun, indah kiranya jika dilihat dari dekat: susunan objek, potongan dari kain perca yang serasa adalah abstrak dengan pertimbangan rumit dari objek ke objek lain, dari warna ke warna lain, dan kucuran kain warna putih dari atas menuju bawah. Dominasinya di ruangan ini memperlihatkan satu dari sekian format karya yang menunjukkan keberaniannya dalam mengusung realita personalnya dengan estetika yang dipilihnya di hadapan keberagaman media-media pada pameran ini.

Tak jauh, terlihat seri lukisan, terfragmen dan meruang yang terinstalasikan sepanjang tembok sekitar tiga meter. Osyadha Ramadhana, Seri Lukisan (Tutur dalam kapuk, kayu, dan jelujur jarum) (2005) menjadi karya di sela-sela terakhir eksplorasi lukis, melebarkan pecahan tutur yang tercacah di atas dan di bawah, bertumpuk ke tengah hingga ke samping kanan; berbentuk geometris, berkotak-kotak seperti puzzle. Lukisan naif hingga berfigurkan jabatan tangan, rambut dan mesin jahit; berwarna-warni dengan background putih gading di atas kayu. Dari fragmen-fragmen ini bisa dipahami adanya usaha untuk merepresentasikan tutur — yang umumnya diceritakan dalam bentuk dongeng-dongeng di masa kecil — dalam bentuk visual. Hal ini juga bisa dipahami dari penggunaan gaya lukis fana, coretan-coretan visual yang lekat dimiliki oleh anak kecil.
Osyadha Ramadhana tak hanya berbicara soal tutur, tetapi juga berusaha merawat ingatan masa lalunya — jabatan tangan, rambut, dan mesin jahit — sembari menyejarahkan fase hidupnya lewat responnya di usia dewasa ini. Ia bukan sekadar mempertahankan fananya, melainkan mereplika kembali realita lewat bentuk karya seni sebagai konstruksi untuk melihat identitas diri, sosial, dan budaya.


Di lantai atas kita akan membicarakan dua format karya interaksi. Bersama pengunjung lainnya, secara bergantian hanya diperbolehkan enam orang saja yang naik untuk melihat-lihat dalam waktu beberapa menit, melihat kecilnya ruangan yang hanya dibagi sekat-sekat tembok. Dari karya Toyol Dolanan Nuklir, Sateriyo Wergol (2026) menjadi media interaktif: sirkuit yang dirangkai sedemikian rupa sehingga menghasilkan suara saat kita pukul paku-paku dengan besi.
Karya di sebelahnya, milik Syntetika berjudul Body Composition Syntetika Project (2026) menguasai dua bilik dengan konsep karya interaktif yang menyoroti dinding lewat proyektor dan terhubung dengan kinect sehingga apabila menyentuh samping dindingnya akan menghasilkan warna yang berbeda. Di bilik sebelahnya, terdapat bathub yang terisi bola-bola plastik putih dan disoroti proyektor dan kita bisa berbaring di dalamnya.
Kedua karya ini mengambil posisi menarik di antara karya lainnya karena mengambil konsep yang berbeda. Kekuatannya terlihat dari bagaimana memanfaatkan teknologi: interaksinya dengan suara dan pendeteksi gerakan dari Kinect.Keduanya juga menjadi contoh nyata dari cairnya bentuk-bentuk karya seni rupa, merangkum instalasi, interaktif, dan sound art menjadi satu kesatuan — bukti bahwa seni rupa tak hanya soal keindahan, tetapi juga fleksibilitas ide yang dieksekusi dengan kreativitas dan kebaruan.

Bentangan karya dalam ruang-ruang yang terangkum dalam keanekaragaman artistik serta lintas pikir antar seniman membawa pembahasan lebih jauh yang tak hanya sekedar cat di atas kanvas atau mix media, tetapi juga adalah rekaman jejak situasi sosial dan kesenian yang dihadapi oleh mereka. Melihat kembali pada apa yang disampaikan Sanento Yuliman di awal tulisan mengenai ‘perubahan’ — pergerakan zaman yang mengunci dikotomi antara dulu dan sekarang — karya-karya dalam pameran ini menunjukkan adaptasi dengan masa lalu lewat berbagai usaha mencampurkan, memperbarui, ataupun menceritakan ulang masa lalu itu, dengan kreativitas dan inovasi.
Gatot Pujiarto dan Osyadha Ramadhana, misalnya, merangkum dirinya dalam flashback, membungkusnya dalam bentuk estetika yang membangkitkan pikiran-pikiran lama kita sendiri, menjadi semacam refleksi. Serta Bagus Priyo yang kesederhanaan karyanya menjadi dagel 4merespon peristiwanya dengan realita sosial.
Ataupun dari Antoe Budiono yang mencampurkan kilas balik dan era sekarang dengan abstraksinya dalam karyanya. Serta kebaruan dari Toyol Dolanan Nuklir dan Syntetika dengan memanfaatkan teknologi sebagai media interaktif menciptakan kebahagiaan dan imersifnya pengunjung dengan karya, menciptakan kebaruan dari responnya akan era yang baru.
Sehingga melalui pameran Mukadimah, ini secara langsung memposisikan hadirnya agen baru, titik awal yang ikut terjun di ruang publik dengan responnya atas problematika yang terjadi di dalamnya. Dan menjadi penyumbang bentuk rekaman baru dari progresivitas ekosistem seni rupa di Malang Raya dan titik lainnya di Jawa Timur yang akan saling terhubung.
Catatan
- Sanento Yuliman (1941–1992), kritikus, sejarawan, dan pelukis yang menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam wacana seni rupa modern Indonesia. Esainya Seni Lukis Indonesia Baru (1976) dan keterlibatannya dalam Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) banyak membentuk cara generasi berikutnya membaca perubahan sosial dalam seni rupa Indonesia. ↩︎
- Wayang: seni pertunjukan boneka atau bayangan tradisional Jawa dan Bali yang mengisahkan epos seperti Mahabharata dan Ramayana. Bentuk visualnya yang khas — pipih, bergaya, penuh detail ornamentik — telah lama menjadi rujukan estetika dalam seni rupa Indonesia. ↩︎
- Dalam fikih Islam, air liur anjing tergolong najis mughalazah (najis berat) yang memerlukan tata cara penyucian khusus — bagian dari alasan mengapa anjing umumnya dijauhi kontak langsung dalam praktik ibadah masyarakat Muslim ↩︎
- Dagel: istilah dari bahasa Jawa untuk gaya humor atau lawakan yang spontan, sederhana, dan mengalir apa adanya — dekat dengan tradisi lawak rakyat Jawa, berbeda dari komedi yang terstruktur ketat. ↩︎

Terlibat banyak hal seputar dunia seni rupa, salah satunya pengulas pameran atau karya seni. Rizal adalah partisipan Writers Lab, lokakarya kepenulisan kritik seni yang diadakan atas kerja sama Indeks Bandung dan URAKAN Magazine di tahun 2026.
