Cemeti – Institute for Art and Society, Yogyakarta
13 Maret – 18 April 2025
Dalam buku War Talk, penulis Arundhati Roy menguraikan kekuatan imperial yang memandang negara-negara sebagai pasar terbuka. Salah satu caranya adalah monopoli privatisasi sumber daya yang menciptakan dampak kesenjangan sosial, kolonialisme, dan fasisme. Bagaimana kita melawan kekuatan imperial yang merebut tanah, merampas rumah, bahkan menghapus bahasa serta sejarah? Bagaimana kesenian dapat berperan untuk mewujudkan hari yang tenang? Dengan judul yang terinspirasi dari kata-kata Roy dalam buku tersebut, pameran ini berupaya mencari jawabannya.
Di dinding halaman depan, mural Tanah Suci Berdarah (2025) karya Enka Komariah menyambut pengunjung dengan penggambaran kekejaman Zionisme yang menindas masyarakat Palestina. Di antara reruntuhan bangunan, kobaran api, dan pagar penjara, tergambar pertempuran yang tidak adil antara figur martir berwarna putih, hanya berbekal ketapel, melawan raksasa berkepala dua yang dilengkapi zirah dan tank. Mural ini mengadaptasi prangko Seri Palestina (1978) hasil kolaborasi Palestine Liberation Organisation dan Deplu RI, dengan pesan diplomatis yang jelas: “Untuk kesejahteraan keluarga para martir dan pejuang kemerdekaan Palestina.”

Memasuki galeri, simbol kekejaman imperialisme diperinci melalui lini masa 1965–2010, hasil riset kelompok Danarto, dkk., yang membahas perjalanan pengaryaan serta spiritualitas Danarto. Dalam sembilan cerpennya — mulai dari Armageddon (1968) hingga Unta Masuk Lubang Jarum (2009) — Danarto menunjukkan kesetiakawanannya terhadap Palestina, menjadikan peristiwa penting seperti Genosida 1965/1966, Naksa1, pendirian PLO, hingga Intifada sebagai bagian integral dari refleksi politik dan spiritual dalam karyanya.

Di bilik hitam, ruang berbasis medium film menampilkan empat karya: A Night We Held Between (2024) karya Noor Abed, The Story of Milk & Honey (2011) karya Basma al-Sharif, Tutaha Subang, Dongeng untuk Anakku (2024) karya Wulan A. Putri, dan Kota Emas (2025) karya Arief Budiman.
A Night We Held Between (2024) karya Noor Abed, sineas Palestina, mengeksplorasi tubuh sebagai koreografi sosial dan situs sebagai pertautan narasi. Berpusat pada lagu tradisional Song for the Fighters yang ditemukan di Popular Art Centre, Ramallah, film analog 16 mm berdurasi 30 menit ini menghubungkan situs kuno Palestina melalui sejarah, nubuat, dan kehidupan sehari-hari. Elemen spontanitas, seperti gambar terbakar, menjadi bagian integral narasi. Pendekatan ini melawan dominasi citra orientalis Barat yang kerap mengabaikan pengalaman lokal Palestina.
Basma al-Sharif, sineas Palestina, menghadirkan pendekatan lain dalam menggali tema cinta, kenangan, dan identitas dalam The Story of Milk & Honey (2011). Instalasi ini menggabungkan medium fotografi, teks, dan film untuk menciptakan narasi yang terfragmentasi tentang kehilangan dan kenangan. Foto-foto di Corniche Beirut, Libanon, menunjukkan upaya memudarkan keberadaan manusia, baik dalam fisik maupun ingatan, diperkuat dengan penghapusan kata “tanaman” dari buku agrikultural yang direproduksi gambarnya. Al-Sharif memadukan fakta dan fiksi, anonimitas dan personalitas, untuk menggambarkan sensibilitas kompleks yang memantik gambaran tentang identitas dan rumah.

Film dokumenter Tutaha Subang, Dongeng untuk Anakku (2024) karya Wulan A. Putri adalah kisah Rikarda Maa, seorang ibu sekaligus pejuang dari Suku Awyu. Melalui surat emosional kepada putrinya, Mila, Rikarda mengungkapkan kepedihan akibat ekofemisida — penghancuran alam dan penindasan perempuan oleh ekspansi sawit di tanah Awyu. Masa depan kelam bagi Mila dilukiskan melalui bayangan akan sungai tercemar, hutan lenyap, dan tanah leluhur yang terancam; bagi Rikarda pendidikan menjadi harapan yang diwariskan kepada putrinya, pendidikan yang kelak membebaskannya dari belenggu kolonial negara. Suku Awyu juga mengadakan ritual sakral Proses Sasi2, menanam salib merah di tanah mereka menjadi simbol perjuangan spiritual, mencerminkan keteguhan Suku Awyu mempertahankan lingkungan dan budaya mereka dari ancaman eksploitasi sistematis oleh kolonialisme negara.
Karya terakhir, Kota Emas (2025) oleh Arief Budiman, terinspirasi dari kumpulan cerpen Pendeta Izaak Samuel Kijne, mengangkat perjalanan dua sahabat, Arief dan Edi, di tanah Papua. Dokumentasi mereka mengungkap isu eksploitasi sumber daya alam, manipulasi historis seperti propaganda “Irian”3, hingga dominasi budaya Jawa. Melalui footage pemandangan alam, dialog santai, dan ironi antara harapan dan kenyataan, film ini menjadi kritik tajam terhadap represi negara. Film ini ditutup dengan kutipan cerpen Bukit Aitumeri (1925), yang menjadi refleksi perjuangan masyarakat Papua untuk menentukan nasib mereka sendiri.

Imperialisme merasuki kesenian melalui berbagai mekanisme: kontrol, perampasan, apropriasi budaya, serta konstruksi orientalis dan eksotis yang mengaburkan realitas komunitas asal. Karya-karya dalam pameran ini saling berdialog, menentang cara kerja imperialisme dengan menghadirkan citra, narasi, dan pengalaman yang berakar pada suara-suara yang kerap dipinggirkan — indigenous, perempuan, dan komunitas lokal.
Melalui proses penciptaan dan representasi, seni menjadi ruang pengklaiman kembali terhadap apa yang telah dirampas, dihapus, dan dimarginalkan oleh kekuatan imperial.
Saat imperialisme berupaya menghapus jejak sejarah dan identitas budaya, seni justru berfungsi sebagai perlawanan, menjaga ingatan kolektif tetap hidup. Perlawanan ini tidak selalu bersifat frontal; ia bisa dimulai dari langkah-langkah yang tampak sederhana: berbicara, merekam, dan mempertahankan jejak sejarah adalah upaya untuk menolak — mengutip Roy — apa-apa yang dijual oleh kekuatan imperial.
Catatan
- Naksa adalah kata Arab untuk “kemunduran”. Palestina memakainya untuk menyebut Perang Enam Hari 1967, ketika Israel menduduki Tepi Barat dan Jalur Gaza dan sekitar 300.000 warga Palestina terpaksa mengungsi. ↩︎
- Sasi adalah larangan adat untuk memasuki atau memanfaatkan suatu wilayah atau sumber daya, dikenal di banyak daerah Indonesia timur. Di Papua Selatan, komunitas adat, termasuk suku Awyu, memasang salib merah dan palang adat di tanah mereka untuk menghentikan perampasan lahan dan penggundulan hutan oleh pemerintah dan perusahaan. Gerakan ini dikenal sebagai Gerakan Salib Merah. ↩︎
- “Irian” adalah nama resmi wilayah ini di bawah pemerintah Indonesia: mula-mula Irian Barat, lalu Irian Jaya sejak 1973. Irian Jaya diganti menjadi Papua setelah undang-undang otonomi khusus 2001. ↩︎
