Jumlah penonton membeludak, laris manis, film dipuja! Angka menembus jutaan, keberhasilan pun diumumkan. Industri bersorak, produser menghitung laba, pemerintah ikut bangga, pajak masuk. Tapi kru cuma melongo, bonus pun belum tentu mampir ke kantong mereka. Banyak fakta seperti itu.
Ketika keuntungan diraup segelintir pihak, siapa yang peduli pada mereka yang memeras keringat di balik layar? Industri sibuk memajang angka penonton sebagai trofi, tetapi urusan kesejahteraan kru tak selalu dipedulikan, kemudian dilupakan begitu saja. Film dinobatkan sebagai sukses besar. Selesai?
Tunggu dulu! Sejak kapan jumlah penonton menjadi hakim tunggal yang berhak menentukan mutu sebuah film? Apakah film yang ditonton sepuluh juta orang otomatis lebih baik daripada film yang hanya ditonton seratus ribu orang? Kalau begitu, buat apa juri berdebat sampai urat leher menegang demi pencapaian artistik? Buat apa skenario dibedah, penyutradaraan diusut, sinematografi dipelototi, tata artistik diperiksa, akting dipersoalkan, penyuntingan dikuliti, dan tata suara diobok-obok?
Kalau jutaan penonton sudah cukup untuk menyatakan sebuah film hebat, bubarkan saja perdebatan soal penilaian dan penjurian!
Tak perlu ada juri, tak perlu penilaian artistik atau estetika segala. Cukup hitung penontonnya, susun peringkatnya, lalu nobatkan pemenangnya! Selesai! Lah, apa lagi? Memang ada yang beda?
Lho, ya jelas beda! Beli tiket, masuk bioskop, duduk manis, lampu padam, layar menyala. Cerita bergulir, penonton ikut tegang, tertawa, ketakutan, atau terharu. Seratus menitan berlalu, film selesai, lampu menyala, pulanglah penonton dengan kesan masing-masing. Suka, tidak suka, puas, kecewa. Beres! Sah-sah saja. Memang, film dibuat untuk ditonton.
Penonton membeli tiket untuk menikmati film, bukan untuk membedah sinematografi, mengurai struktur cerita, mengutak-atik decoupage1, atau memperdebatkan teori film dan pencapaian artistik. Mereka datang untuk menonton, tertawa, menangis, tegang, atau sekadar menghabiskan waktu.
Mereka tidak wajib menjelaskan bagaimana susunan shot membentuk makna, bagaimana gambar dirangkai, atau mengapa sebuah film berhasil maupun gagal secara artistik. Film selesai, kesan tertinggal. Suka, ya suka. Benci, ya benci. Tidak perlu ujian teori film setelah lampu bioskop menyala. Ya, sudah!
Persoalan jadi berbeda ketika kita mulai bicara tentang mutu film. Apakah jutaan tiket terjual otomatis membuat sebuah film lebih unggul secara artistik? Kalau tidak, mengapa angka penjualan tiket masih saja diperlakukan seolah-olah bisa menjadi sertifikat mutu? Sejak kapan laris di pasaran berarti menang dalam urusan pencapaian artistik?
Tentu saja, idealnya sebuah film laris di pasaran, unggul secara artistik, sekaligus berjaya di festival. Bukan mustahil. Tengok karya-karya Teguh Karya2, seperti Badai Pasti Berlalu dan November 1828, yang menunjukkan pencapaian penting dalam perfilman Indonesia. Namun, keberhasilan komersial, pencapaian artistik, dan pengakuan festival tetap harus dilihat berdasarkan bukti masing-masing. Ketiganya bisa bertemu, tetapi tidak otomatis datang sepaket.
Film laris bisa bermutu, tetapi bisa juga miris kualitasnya, bahkan memalukan secara artistik. Sebaliknya, film sepi penonton bisa saja bermutu, tetapi bisa juga memang buruk kualitasnya. Jadi, jangan buru-buru menganggap film laris pasti hebat atau film yang tidak laku pasti karya agung yang gagal dipahami zaman. Sama saja ngawurnya! Masalahnya bukan film itu laris atau sepi, melainkan ketika angka penjualan tiket dijadikan ukuran tunggal, seolah-olah pasar sudah menjatuhkan putusan final tentang mutu sebuah film.
Nah, di sinilah peran juri festival kompetitif menjadi penting. Menjadi juri bukan sekadar duduk manis, menonton, lalu memberi cap bagus atau jelek. Juri harus mampu menjelaskan dan mempertanggungjawabkan penilaiannya. Bagaimana cerita dibangun? Bagaimana sutradara mengolah adegan? Bagaimana kamera, cahaya, warna, tata artistik, akting, penyuntingan, dan suara bekerja membentuk keseluruhan film? Semua itu perlu dicermati, bukan sekadar ditonton sambil menunggu cerita berakhir.
Selera pribadi tentu boleh ikut bermain, tetapi penilaian tidak bisa berhenti pada kalimat, “Saya suka film ini.” Suka karena apa? Tidak suka karena apa? Apa yang membuat satu film lebih berhasil daripada film lainnya dalam pencapaian artistik? Di sinilah juri dituntut memberikan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Kalau ujung-ujungnya hanya menghitung jumlah penonton, buat apa repot-repot membentuk dewan juri?
Ghost in the Cell karya Joko Anwar menjadi contoh menarik di FFI 20263. Film ini memiliki jumlah penonton yang besar (lebih dari 3,3 juta penonton selama 55 hari penayangan) sekaligus masuk nominasi. Nominasi FFI 2026 ditetapkan melalui penilaian 85 anggota Akademi Citra dan 35 perwakilan dari 13 organisasi profesi perfilman. Artinya, keberhasilan komersial dan pengakuan artistik bisa bertemu dalam satu film. Namun, jangan berhenti di situ. Masuk nominasi bukan berarti seluruh pencapaian film otomatis unggul, sebagaimana jumlah penonton yang besar bukan alasan untuk menobatkannya sebagai karya terbaik. Yang perlu dibicarakan adalah apa yang membuat film itu bekerja dan pencapaian apa yang benar-benar ditawarkannya.
Dalam Ghost in the Cell, yang masuk nominasi Pengarah Sinematografi Terbaik FFI 2026, ruang penjara yang sempit bukan alasan untuk menyerah pada keterbatasan. Justru di situlah kreativitas sinematografi diuji. Pergerakan kamera dirancang menyatu dengan blocking dan pergerakan pemain melalui choreography shot dalam pendekatan one shot, membentuk rangkaian visual dengan ritme yang mengalir tanpa memerlukan potongan editing.
Kamera dan pemain tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Semuanya dirancang dan dijalankan dengan presisi. Bukan asal kamera bergerak ke sana kemari supaya gambar kelihatan sibuk! Setiap gerakan punya tujuan: membangun ritme, menciptakan mood, memperkuat ketegangan, dan mendukung kebutuhan dramatik adegan.
Tata cahaya didominasi pencahayaan temaram (low-key lighting) dengan kontras tinggi antara area terang dan gelap. Pilihan ini bukan sekadar untuk membangun kesan suram atau menakutkan, melainkan juga membentuk realitas visual yang mendukung dunia cerita. Bayangan menjadi bagian dari ruang dramatik, membatasi apa yang terlihat sekaligus menyisakan wilayah gelap yang menyimpan ancaman dan ketidakpastian.
Kontras cahaya dimanfaatkan untuk menegaskan karakter ruang, memperkuat atmosfer penjara, dan mengarahkan perhatian penonton pada detail atau aksi tertentu. Pada saat yang sama, pengaturan terang dan gelap ini meningkatkan tensi dramatik, terutama ketika ancaman muncul atau situasi berubah menjadi berbahaya. Jadi, pencahayaan berfungsi membangun realitas penceritaan sekaligus mengendalikan intensitas pengalaman penonton, bukan sebagai elemen pemanis gambar (beauty light) tanpa nyawa.
Horor, aksi, dan komedi saling berkelindan, sementara adegan kematian dirancang menjadi komposisi visual yang ekstrem. Tubuh, ruang, dan pergerakan bukan sekadar pelengkap cerita, melainkan bagian dari cara film membangun pengalaman penonton. Nah, kalau setelah menonton orang cuma ribut soal cerita, darah, dan jumlah penonton, lalu ke mana perginya perhatian terhadap cara film ini bekerja? Masa film hanya dinilai dari apa yang tersaji di layar, sementara cara cerita dibangun, adegan dirancang, kamera digerakkan, cahaya ditata, dan suara diolah malah luput dari pembicaraan?
Tentu saja, box office tetap penting. Industri film bukan hidup dari tepuk tangan dan pujian semata. Produksi berikutnya butuh modal, dan perusahaan harus menjaga agar usahanya tetap berjalan. Kalau film menghasilkan keuntungan besar, tidak ada salahnya sebagian keuntungan itu dibagikan sebagai bonus kepada pemain dan kru, jika memang adil dan berperikemanusiaan. Jangan sampai keuntungan hanya dinikmati mereka yang duduk di kursi produser atau pemilik modal, sementara orang-orang yang ikut berjibaku membuat film cuma kebagian tepuk tangan. Film tidak lahir dari kerja satu-dua orang. Ada banyak tenaga, waktu, pikiran, dan kreativitas yang dipertaruhkan di balik layar.
Namun, menghargai box office bukan berarti menyerahkan seluruh urusan mutu film kepada angka penjualan tiket. Jangan mentang-mentang tiket ludes dan penonton membeludak, lalu merasa sudah membaca film sampai ke jeroannya. Angka penjualan tiket memberi tahu berapa banyak orang membeli tiket, bukan otomatis menjelaskan bagaimana mutu sebuah film dibangun. Kalau jumlah pembeli dijadikan ukuran tunggal, film akhirnya diperlakukan seperti barang di rak supermarket: yang paling banyak dibeli dianggap paling bagus. Lantas, apa bedanya membaca film dengan menghitung transaksi?
Film bukan sekadar komoditas yang dijual, ditonton, lalu selesai urusan. Di dalamnya ada cerita yang disusun, adegan yang dirancang, kamera yang memilih sudut pandang, cahaya dan warna yang membentuk suasana, suara yang mengusik atau mengarahkan emosi, serta ritme penyuntingan yang menentukan bagaimana penonton mengalami cerita. Ada pula gagasan dan persoalan sosial yang disampaikan melalui pilihan-pilihan kreatif tersebut. Semua itu tidak bisa dibaca hanya dengan melihat grafik penjualan tiket.
Box office berangkat dari orang yang menonton dan membeli tiket. Sedangkan orang yang membaca film justru dibayar ☺, karena dituntut perhatiannya terhadap bagaimana karya itu dibangun. Keduanya bisa senyawa. Idealnya, film laris sekaligus diakui pencapaian artistiknya. Namun, perpaduan seperti itu masih tergolong langka. Ada film yang laris manis sekaligus mendapat pengakuan artistik, ada yang laris tanpa mendapat pengakuan serupa, dan ada pula film yang dipuji di festival tetapi penontonnya bisa dihitung dengan jari. Lantas, kenapa harus dipaksa sama?
Pasar punya hitung-hitungan sendiri, festival punya pertimbangan sendiri. Box office berada dalam wilayah distribusi dan bisnis, sedangkan festival menyediakan ruang untuk menilai pencapaian film sebagai karya. Keduanya bisa saling bertemu, bisa pula menghasilkan penilaian yang berbeda. Dan itu bukan masalah. Tidak semua film harus laris untuk mendapat pengakuan artistik, sebagaimana tidak semua film yang mendapat penghargaan harus sukses di pasar.
Jadi, tidak perlu dicampur aduk urusannya! “Box office bukan alat untuk membaca film, dan membaca film bukan cara menghitung penjualan tiket”. Keduanya punya wilayah masing-masing dan sama-sama dibutuhkan dalam ekosistem perfilman. Angka penjualan tiket boleh dirayakan, pencapaian artistik layak dibicarakan. Tetapi, jangan sampai karena sibuk menghitung berapa banyak orang menonton, kita malah lupa melihat apa yang sebenarnya ditawarkan sebuah film.
